Tampilkan postingan dengan label Flores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flores. Tampilkan semua postingan

BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (4)

Jumat senja sekitar pukul 19.00, setelah selesai ibadah Jumat Agung. Masih ada waktu sedikit untuk mempersiapkan diri, mulailah prosesi Jumat Agung. Mulai dari Katedral Larantuka, kemudian mengelilingi sebagian kota Larantuka dengan lilin. Ada sebuah ibadah singkat dengan lamentasi (nyanyian duka dan pengharapan dari Kitab Ratapan menurut puisi Ibrani yang alfabetis) dan doa sebagai pembuka dan penjelasan prosesi di Katedral. Lamentasi juga dinyanyikan tadi Jumat pagi dan kemarin Kamis pagi di Katedral. Di sini juga disebutkan urutan yang terlibat dalam prosesi: confreria, koor, pejabat negara, suku-suku, pejabat gereja – memang prosesi ini adalah hajat semua orang. Juga terlihat umat Islam
membantu kelancaran prosesi sejak dari Katedral. Persiapan prosesi ditutup dengan nyanyian ratapan Veronika tentang sengsara Yesus. Seorang perempuan muda dengan mempertunjukkan gambar wajah Yesus yang penuh luka menyanyikan ratapan Veronika dengan irama melismatis yang syahdu dalam bahasa Latin. Sangat menyayat. Indah pula. Rasanya, setiap kali nyanyian itu selesai dinyanyikan, kita ingin mendengarkannya kembali. “Hai kamu yang melintasi jalan ini, pandang dan lihatlah, apakah kau melihat kesedihan yang sedang aku alami?” kata Veronika.

Pukul 20.00 prosesi Jumat Agung mulai berjalan. Prosesi membawa peti Tuan Ana. Peti diusung oleh para Nikodemus (Lakademu), empat orang, dengan wajah tertutup selubung putih dan merah. Confreria mengiringi di sekitarnya. Ratusan ribu peziarah, berjalan empat-empat di kiri-kanan sisi jalan, ikut di belakang sehingga mengekor beberapa kilometer di belakang. Nyanyian-nyanyian dan zikir salam Maria terus dikumandangkan oleh para peziarah – demikian juga dilakukan oleh puluhan ribu masyarakat di sepanjang jalan prosesi itu. Lilin-lilin menyala di sepanjang perjalanan.

Prosesi berhenti di delapan Armida. Ketika berhenti di Armida, selama 15 – 20 menit, Injil dibacakan,
renungan dan doa disampaikan, dan seorang solis perempuan menyanyikan “Ratapan Putera Manusia” atau nyanyian ratapan Veronika sambil mempertunjukkan lukisan wajah sengsara Yesus. Nyanyian yang menyayat ini mampu menyirap zikir dan nyanyian peziarah di dalam keheningan khidmat. Prosesi malam berakhir di Katedral semula sekitar pukul 01.00. Prosesi selesai. Sebuah perziahan dapat dikatakan telah utuh.

Mengantuk, lelah, panas. Namun perziarahan ini telah memberikan kepuasan dahaga tak terkira. Salah seorang peziarah mengatakan: “Inilah ziarah. Ketika memulainya, lakukan dengan persiapan dan niat yang matang. Ketika menjalaninya, tidak mengeluh ini-itu atau terlalu meluapkan kegembiraan. Ketika mengakhirinya, akhiri hingga selesai.” Ziarah bukan mau enaknya saja, tetapi ada penderitaan, pengorbanan, dan sakit yang ikut mengiringinya.

Sabtu pagi, prosesi belum usai. Masih ada beberapa prosesi dan ritual kecil yang berlangsung hingga Senin pagi. Gereja pun tetap terbuka untuk Sabtu Sunyi. Namun, para peziarah umumnya, setelah dahaganya terpuaskan dari oasis perziarahan orang nagi, mulai kembali ke tempat tinggalnya untuk merayakan Paska pada hari Sabtu malam atau Minggu, atau melakukan aktivitas seseharinya. Para pemuda mengantarkan kembali patung Tuan Ma dan peti Tuan Ana ke kapelnya semula masing-masing. Sepanjang Sabtu pagi itu, kota Larantuka menjadi sepi, tenang, dan sunyi. Hanya ada beberapa petugas yang tetap bekerja. Selain petugas di Gereja dan keamanan, ada juga “ritual” sampingan, yakni para petugas kebersihan mengurusi sampah-sampah yang tercecer di sepanjang jalan prosesi tadi malam.

BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (3)

Kegiatan-kegiatan gereja selama Pekan Suci ini berangsung biasa. Kamis malam tetap diadakan ibadah Kamis Putih, demikian pula Kamis pagi tetap diadakan kegiatan gerejawi, yakni pembaruan janji imamat bagi semua pastor Katolik. Kami tidak ikut Kamis Putih di Katedral malam itu, sekalipun kami tinggal di Katedral. Kami diajak Romo Bernard Kerans ke Stasi (bakal Paroki) sedikit keluar kota, di pedesaan. Ia memimpin ibadah Kamis Putih di gereja yang dikelilingi hutan itu hingga pukul 21 lewat. Gereja kecil, namun penataan ibadahnya inspiratif sekali. Biasanya, yang inspiratif dianggap tidak alkitabiah. Atau, ada juga anggapan bahwa Alkitab tidak memberikan inspirasi bagi drama-drama liturgis. Tetapi di Stasi ini, warga desa tersebut membuat ibadah yang inspiratif dan sekaligus alkitabiah, sehingga ibadah membawa kita lebih memahami kisah malam terakhir Yesus itu sebagaimana kesaksian Alkitab. Para penulis Alkitab adalah memang penulis naskah terbaik bagi ibadah-ibadah gereja.

Setelah Kamis Putih, gereja tetap terbuka untuk tuguran (berjaga semalaman). Pengurus gereja membagi kelompok-kelompok umat untuk berdoa dan bermazmur setiap satu jam dari pukul 22 hingga pukul 18. Semua gereja di Flores bertugur malam itu – juga di katedral tempat kami menginap.

Tuguran (berjaga) sepanjang malam sejak Kamis Putih hingga Jumat dini hari tidak menyurutkan niat dan semangat umat dan para peziarah di Larantuka untuk melakukan devosi jalan salib. Devosi tersebut dilakukan sejak pukul 07.00 dan berlangsung sekitar 100 menit. Nyanyian-nyanyian paduan suara acapella bergaya Flores yang syahdu mengiringi devosi membawa kami di katedral pagi itu semakin mendekatkan pada peristiwa salib dua ribu tahun lalu di Palestina.

Setelah devosi jalan salib hari Jumat pagi, ratusan ribu peziarah berbondong ke pinggir laut dan pelabuhan. Mereka menyambut dan mengiringi Tuan Menino (Bayi Yesus) yang akan dibawa dari kapelanya ke kapela Tuan Ana. Menyusuri laut dengan kapal kayu yang dikayuh, pukul 12.00 Tuan Menino dibawa dalam prosesi laut dengan perarakan yang sangat besar. Para peziarah mengikuti dari belakang. Laut dipenuhi puluhan, mungkin ratusan, kapal besar dan kecil dengan ratusan ribu peziarah. Sepanjang bibir pantai sepanjang sekitar 2 km juga dipenuhi ratusan ribu peziarah darat. Semuanya berjalan dengan khidmat. Selama sekitar 2 jam itu, kami menyaksikan dan ikut serta dalam sebuah “pesta laut” yang luar biasa. Ziarah laut selesai setelah Tuan Menino ditakhtakan di kapela Tuan Ana. Warga dapat menziarahinya hingga hari Sabtu.

Perarakan peti Tuan Ana dan patung Tuan Ma dilakukan sejak pukul 14.30 pada hari Jumat Agung.
Perarakan dimulai dari kapela Tuan Ana dan kapela Tuan Ma yang saling berdekatan itu diiringi dengan paduan suara Ma-ma Muji menuju Gereja Katedral Larantuka. Begitu Tuan Ana dan Tuan Ma memasuki katedral, kebaktian Jumat Agung dimulai. Di Katedral berlangsung pada pukul 15.00 hingga sekitar pukul 17.30.

Seselesai ibadah umat melakukan ziarah kubur keluarganya masing-masing untuk menyalakan lilin. Makam    menjadi   sangat   banyak   pengunjung  dan pusara-pusara terang benderang dengan nyala lilin. Anggota-anggota keluarga reuni di sekitar pusara. Dalam keyakinan akan kebangkitan orang mati, Paska dihayati sebagai perayaan bersama orang hidup dan orang yang telah meninggal.

BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (2)

Para peserta prosesi mulai tiba di Larantuka sejak hari Selasa; beberapa di antaranya bahkan telah tiba sejak hari Senin. Namun, umumnya, hari Rabu dan Kamis  siang adalah masa tiba terbanyak para peziarah.Sejak Kamis pagi, sebagian kota Larantuka tertutup bagi kendaraan. Jalan-jalan utama telah siap dengan deretan lilin di atas pagar-pagar bambu. Setelah istirahat sejenak, kami siap-siap berziarah ke situs-situs. Ada banyak situs, dan menurut orang-orang situ, tidak mungkin kita menziarahi semua situs dalam satu kali kunjungan. Padahal, situs-situs itu hanya dibuka beberapa hari menjelang Paska setiap tahun.

Para peziarah di Larantuka umumnya menziarahi beberapa tempat bersejarahyang bertebaran di kota Confreria (para awam yang menjaga tradisi dan devosi Larantuka) yang mengusung Tuan Ana dan Tuan Ma dalam prosesi, ketigabelas suku Semana yang akan mengaji Semana tiap Rabu, koor untuk Kamis dan Jumat, Ma-ma Muji, belum termasuk para petugas kesehatan, keamanan, dan lalu lintas, berjaga dan bekerja nyaris non-stop.
Larantuka dan sekitarnya, dan bahkan hingga menyeberangi pulau. Perziarahan dimulai sejak Rabu hingga Jumat pagi.Penduduk setempat dan orang asing baik rombongan maupun sendiri, para peziarah memulai kegiatannya sejak pagi hari hingga jauh malam. Pukul 5 pagi, kapela Tuan Ana (Yesus) dan kapela Tuan Ma (Bunda Maria) sudah ramai dikunjungi sejak Kamis dan Jumat itu. Sepanjang Kamis malam ada tuguran umat. Kapal-kapal motor tak henti antar-jemput peziaran ke Pulau Adonara. Para petugas gereja, penerima tamu,

Larantuka menjadi sangat ramai dan sibuk, namun semua berjalan dengan tenang dan rileks. Para petugas tetap ramah dan melayani peziarah. Tidak ada orang yang bentak-bentak, berkata-kata kasar, teriakan, tidak ada komplain sekalipun di tengah desakan antre para peziarah yang azubilah. Bahkan sengatan terik sinar matahari kota itu tidak menyurutkan niat peziarah untuk melakukan ritus demi ritus dengan sabar mengantre di pintu-pintu masuk situs.

Dalam berziarah, bukan kecepatan waktu yang dikejar, namun penghayatan mendalam terhadap sebuah situs. Lelah, kesal, jemu, dan haus adalah bagian yang menyatu di dalam perziarahan. Dalam berziarah, kita mengulang dan mengenang perjalanan perjuangan masyarakat yang dilakukan masa lalu pada masa kini.
Prosesi dimulai dengan doa dan paduan suara para perempuan “Ma-ma Muji” dengan menyanyikan lagu-lagu ratapan pada Rabu petang. Lagu-lagu ratapan dinyanyikan menurut puisi Ibrani, yakni secara alfabetis dalam abjad Ibrani: alifbethdalethgimel - dst. Sayang sekali, kami belum tiba di Larantuka Rabu itu. Pada hari Kamis Putih, diadakan ritus Muda Tuan, yakni pemandian patung Bunda Maria Berdukacita bernama Tuan Ma. Setelah dimandikan di kapelnya, Tuan Ma dikenakan pakaian kebesaran jubah ungu, dan umat boleh menjenguknya. Perkunjungan itu hanya dibuka sekali dalam setahun.

Di tempat lain, di kapel Perpetu, diadakan ritus mencium peti Tuan Ana (sebutan untuk Yesus) sebelum diarak bersama patung Tuan Ma. Sementara itu, liturgi Gereja seperti doa-doa harian, tuguran, dan Kamis Putih, serta devosi jalan salib, tetap berjalan selama persiapan prosesi tersebut yang juga berlangsung di Gereja-gereja. Sebuah pengaturan manajerial yang luar biasa karena pengalaman bertahun-tahun.

BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (1)

Prosesi Jumat Agung di Larantuka, Flores Timur, telah memuaskan dahaga spiritual kami di tengah rutinitas kesibukan. Setelah 20 tahun kerinduan itu tertahan karena Paska di gereja, maka Pekan Suci 2013 lalu kami berkesempatan mengikuti prosesi Jumat Agung di Larantuka, sebuah kota kecil di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Setibanya kami di “gerbang” kota Larantuka yang panas, yakni Keuskupan Larantuka, terasa sekali suasana berbeda dari suasana sesehari di Jakarta. Ada suasana sukacita, tetapi tenang dan damai, tidak ada kegaduhan. Ya, karena hari-hari itu adalah hari bae (waktu bagus) bagi orang nagi (sebutan untuk orang Larantuka), atau semana santa (pekan suci) bagi setiap umat Kristen dan secara khusus dan istimewa bagi kota Larantuka.

Mayoritas penduduk Larantuka adalah Katolik Roma, sebagian lagi Islam. Suasana Katolik sangat kental terasa, seperti banyaknya gereja, imam, dan suster. Selain itu, suasana Portugis juga terasa di makam yang berhiaskan pusara-pusara indah. Beberapa pusara makam juga dilengkapi dengan lampu penerang.

Di Larantuka, umat siap menyambut hari bae yang terjadi setiap tahun menjelang Paska tersebut. Umat juga menyambut para peziarah dari segala penjuru dunia, baik orang asing maupun orang Larantuka yang pulang ke kampung halaman khusus untuk ini. Banyak orang Larantuka yang bekerja di kota, pulau, bahkan negeri lain. Pintu-pintu rumah, susteran, keuskupan, katedral dibuka sebagai tempat menginap para peziarah, asal telah memesannya setahun di muka. Kamar hotel dan tiket pesawat tak tersisa sejak lama sebelum hari bae tiba.

Kami beruntung dapat tempat di Katedral. Disambut oleh Romo Bernard Kerans Pr., pengurus tamu di Katedral, kami dapat tidur di kamar-kamar Pastor yang sekali waktu bertugas ke Katedral.

Semana santa di Larantuka adalah memang sebuah panggilan berziarah. Keikutsertaan kita bukan karena dorongan sesaat, dan tidak pulang terburu-buru. Beberapa teman kami yang sekonyong-konyong tertarik untuk ikut beberapa hari sebelumnya, tidak memperoleh tiket. Beberapa peziarah yang kami jumpai di Larantuka bercerita bahwa mereka telah menyiapkan keberangkatannya dan niatnya sejak setahun lalu. Peziarah harus sudah punya jadwal pesawat dan penginapan. Ini bukan sebuah pelesiran, jalan-jalan biasa, atau sekadar kunjungan ke rumah teman. Ini adalah sebuah perziarahan rohani menghayati karya Allah di Larantuka ratusan tahun yang lalu.

Konon tradisi prosesi Jumat Agung ini dilakukan pertama kali pada 24 Maret 1599. Tujuh bulan sebelumnya, Benteng Lohayong di Solor, pusat Misi Dominikan waktu itu, dikepung dan diserang musuh.  Banyak orang Katolik dan imam yang mati terbunuh. Penderitaan itu berakhir pada Maret 1599 setelah serangan bantuan tentara Portugis. Maka semana santa tahun itu – setiap tahun sebelumnya memang telah ada perayaan semana santa kecil-kecilan – dirayakan dengan lebih meriah. Berziarah di Larantuka merupakan tapak tilas karya Tuhan di Larantuka sejak abad ke-16 dan menghidupi keyakinan tersebut setiap tahun hingga kini.

Kini, ditambah dengan banyak unsur sejarah, budaya lokal, dan penyebaran lembaga-lembaga misi Katolik setempat, telah menjadikan kota Larantuka sebuah oasis perziarahan selama pekan suci setiap tahun bagi banyak orang. Inilah yang membuat prosesi di Larantuka, puncak segala aktivitas perziarahan pekan suci ini, unik.

ORANG FLORES P JALAN LURUS BIKIN B P ISI PERUT TERADUK-ADUK OOOO….

(Melinda)

Tidak ada jalan antar kota di Pulau Flores yang lurus, itulah kesimpulan kami setelah menjelajahi separuh pulau ini. Daratan yang dipenuhi oleh gunung, lembah dan bukit di sepanjang Pulau Flores berperan dalam membentuk jalan-jalan antar kota. Ada ratusan tikungan berbentuk tapal kuda dengan sudut yang lebih tajam dibandingkan tikungan tapal kuda di kawasan Puncak dengan kecuraman jalan yang lebih tajam. Bahkan di beberapa tempat dijumpai beberapa tapal kuda yang saling menyambung. Bayangkan pegalnya pinggang yang menyesuaikan posisi duduk di tempat-tempat demikian!

Beberapa kali kami dihibur oleh orang Flores tentang kondisi jalan. Pertama, menurut Andre, supir mobil sewaan dari Ende ke Bajawa, memang jalan antara Bajawa dan Ruteng berkelok-kelok, namun setelah itu dari Ruteng ke Labuan Bajo jalan lebih lancar karena lurus. Kenyataan yang kami jumpai, jalan lurus yang dimaksud itu berkelok-kelok juga!

Kedua, dalam perjalanan dari Bajawa ke Ruteng, bis yang kami tumpangi berhenti di Aimere. Waktu beristirahat yang bermanfaaat setelah perut dikocok-kocok selama 1 jam di jalan berkelok-kelok. Menurut penjual jeruk yang kutanyai di sana, perjalanan dari Aimere ke Ruteng lurus, tidak seperti dari Bajawa ke Aimere. Setelah kami menjalaninya, kami merasakan hal yang sama saja, berkelok-kelok! Rupanya seperti itulah jalan lurus versi orang Flores.

Bagaimanapun berkelok-keloknya, kondisi jalan di Pulau Flores jauh lebih baik dibanding beberapa belas tahun lalu. Hampir seluruh ruas jalan sudah diaspal, meski ada beberapa bagian yang rusak. Kondisi ini sangat bermanfaat bagi pengelana seperti kami, karena sangat menghemat waktu perjalanan. Dahulu, untuk pindah dari satu kota ke kota lain memerlukan waktu satu hari. Selain disebabkan kondisi jalan yang rusak penuh lubang, juga kendaraan umum yang ada tidak memadai. Bahkan, belum tentu ada kendaraan umum yang berangkat setiap hari.

Separah apapun perut dikocok oleh kelokan-kelokan jalan, selalu ada hadiah berupa pemandangan yang indah di tempat tujuan. Bahkan dalam perjalanan ke Riung, sebelum mencapai Riung kami sudah dapat melihat pemandangan pulau-pulau Taman Laut 17 pulau di balik bukit-bukit yang kami selusuri. Flores memang sangat indah…

Mabuk moke

(Melinda)

Dalam kunjungan ke Desa Adat Bena di Manggarai, di sebuah rumah ada jejeran mangkuk terbuat dari batok kelapa berikut sendoknya. Untuk minum moke, kata Ibu penghuni rumah, kemudan diralatnya sendiri : untuk makan soto. Aku penasaran dengan kata moke yang pertama kali diucapkannya. Si Ibu menjelaskan bahwa moke adalah arak yang terbuat dari air gula yang diambil dari pohon lontar. Aku jadi teringat pemandangan sabana di kiri-kanan jalan masuk SPRG Penfui belasan tahun yang lalu. Di sabana itu ada banyak pohon lontar. Beberapa kali aku melihat orang memasang wadah besar di pohon lontar. Wadah yang berbentuk sasando dan terbuat dari daun lontar. Wadah ini berfungsi untuk menampung air lontar yang manis. Beberapa kali aku minum air lontar yang baru dipanen. Manis dan segar saat diminum siang hari yang panas. Tapi moke...belum pernah. Seingatku, minuman hasil fermentasi air lontar itu disebut sopi di Kupang.

Ketika kutanyakan di mana bisa mendapatkan moke, Si Ibu menunjukkan sebuah warung di seberang rumahnya, bahkan kemudian mengantarkanku. Di bagian dalam warung ada sebuah gentong tanah liat yang berisi moke yang dijual dengan harga Rp. 10.000,- per botol bir. Aku tidak bermaksud membeli sebanyak itu, sekedar memenuhi rasa penasaran. Penjaga warung memberikanku 1 gelas.

Minuman itu berbau tape, berwarna putih. Saat diminum terasa pahit dan sedikit manis. Tidak enak, sebetulnya. Namun aku minum lebih dari setengah gelas, hanya karena merasa sayang untuk membuangnya. Tidak ada reaksi apa-apa. Setelah itu, aku masih bisa menuruni tangga-tangga batu untuk keluar dari Desa Bena menuju mobil.

Sekitar 15 menit setelah mobil berjalan, kepalaku terasa makin lama makin berat. Leherku serasa membawa bongkahan batu sehingga tidak sanggup menyangganya. Kemudian otot-otot di sekitar mata dan mulut terasa menebal, demikian juga ujung-ujung jari. Mata tak mampu melihat jarak jauh.

Sepanjang perjalanan aku memejamkan mata untuk mengurangi rasa pusing. Otakku tetap bekerja. Aku membayangkan bila reaksi moke ini makin lama akan makin parah dan menimbulkan kerusakan organ-organ vitalku. Kubayangkan jantungku terus terpacu dan aku tak sanggup menahannya dan akhirnya aku mati. Atau otakku menjadi rusak dan ingatanku hilang. Karena itu aku minta Aurima mencatat beberapa kata kunci yang muncul di kepalaku untuk mengingatkanku seandainya aku normal kembali nanti.

Satu jam kemudian, ketika kami tiba di Bajawa, kepalaku menjadi ringan dan tubuh terasa melayang. Aku tidak sanggup duduk untuk makan meski makanan sudah dipesan. Karena itu aku minta diantar ke kamar. Ujung-ujung jari dan otot wajah terasa panas dan kesemutan. Perut terasa mual.

Di kamar, aku tidak bisa tidur, tapi rasa pusing perlahan-lahan hilang. Yang tersisa hanya rasa mual. Gejala mabuk berangsur-angsur hilang. Dalam waktu 3 jam setelah minum moke, reaksi tubuhku muncul dan hilang sendiri. Cukup cepat bagiku yang baru pertama kalinya minum minuman keras. Mungkin didukung juga oleh udara Bajawa yang dingin, sehingga sebagian besar terpakai untuk menghangatkan tubuhku.

Seminggu kemudian, aku menyaksikan acara Jejak Petualang di Trans 7 yang menyiarkan kisah perjalanan reporternya ke Desa Bena berikut moke-nya. Diperlihatkan pula, saat moke yang diletakkan di mangkuk batok kelapa dengan mudahnya terbakar. Waaaahhh....

Setiap perjalanan wisata selalu ada yang istimewa. Bagiku, mabuk moke adalah pengalaman teristimewa dalam perjalanan kami di Flores tahun ini. Cukup sekali.

Yang membuatku tak habis pikir hingga saat ini adalah bagaimana orang bisa kecanduan minuman keras. Rasa tidak enak. Efeknya sama sekali tidak membuat diri nyaman. Tidak membuat hati tenang. Tidak menghilangkan beban pikiran, malah sebaliknya, pikiran menjadi kacau. Semuanya bikin kapok!

Ruteng, kota indah di pegunungan dengan 40 susteran

(Melinda)

Kami sama sekali tidak mempunyai rencana untuk singgah di Ruteng dalam perjalanan melintasi Flores. Karena pertimbangan waktu, banyak rencana yang berubah, salah satunya adalah bermalam di Ruteng dalam perjalanan dari Riung menuju Labuan Bajo.

Kami mendapat info dari Andre, supir mobil sewaan dari Ende ke Bajawa, bahwa di Ruteng kami dapat menginap di susteran, tanpa menyebutkan apa nama susterannya. Dari terminal Ruteng, kami menaiki bemo untuk mencari susteran. Kami dibawa memasuki kota Ruteng dan menyaksikan keindahannya. Di mata kami, Ruteng merupakan kota terindah dibanding kota-kota lain yang pernah kami kunjungi di Flores. Terletak di pegunungan, kota Ruteng dipenuhi bangunan-bangunan tua yang kokoh. Ada banyak gereja dan susteran dengan latar belakang bukit-bukit hijau.
 
Menurut salah seorang penumpang bemo, jumlah susteran di Ruteng ada 40. Sayangnya dia tidak mengetahui susteran yang menerima tamu untuk menginap. Syukurlah, supir bemo mengetahuinya meski pada awalnya kami tidak yakin dia telah mengantar kami ke tempat yang tepat. Kami diturunkan di biara Bunda Maria Berduka. Ternyata supir bemo itu benar. Biara itu memang biasa menerima pengelana seperti kami. Menurut salah satu suster, tidak banyak orang Ruteng yang mengetahui bahwa biara ini menyediakan tempat bagi tamu untuk menginap, namun supir-supir mobil sewaan dari luar kota umumnya mengetahuinya.

Biara Bunda Maria Berduka terletak di tepi jalan A. Yani, di bagian timur kota Ruteng. Dari jalan raya, kami harus berjalan sedikit menanjak untuk mencapai bangunan biara. Di sebelah kanan jalan masuk ada taman yang terawat dengan patung salib dan Bunda Maria sedang menangis di sudutnya.

Ada 3 bangunan di biara ini. Bangunan utama terdiri dari 2 lantai, di dalamnya ada ruang ibadah, kamar-kamar biarawati dan kamar-kamar untuk tamu menginap. Bangunan kedua juga terdiri dari 2 lantai, berisi kamar-kamar biarawati dan ruang makan tamu. Bangunan terakhir terletak di bagian belakang dan merupakan bagian paling tinggi. Bangunan ini digunakan sebagai asrama murid-murid SMA dan mahasiswi. Di antara bangunan-bangunan terdapat taman-taman yang indah dan terawat.

Kamar yang disediakan untuk menginap terletak di bagian belakang bangunan utama. Karena kontur tanah yang berbukit, bagian belakang bangunan ini merupakan bangunan berlantai 1 yang menyatu dengan lantai 2 bangunan bagian depan. Bangunan ini terdiri dari beberapa kamar dengan daya tampung bervariasi, mulai dari kamar untuk 1 dan 2 orang dengan tempat tidur terpisah hingga kamar luas dengan 1 buah tempat tidur dobel. Setiap kamar memiliki kamar mandi tersendiri dengan fasilitas air panas. Semua kamar tampak bersih, rapi dengan sirkulasi udara yang baik sehingga nyaman sebagai tempat beristirahat.

Bila kita melihat dari tempat manapun di biara ini ke arah depan, maka akan terlihat kota Ruteng yang terletak di bagian bawah dikelilingi bukit-bukit hijau. Pemandangan yang sangat indah. Rasanya tak bosan-bosannya menatap dan menikmati keindahan panoramanya. Meski tidak sama seperti kota Aigen, tempat keluarga von Trapp, keluarga penyanyi dalam film The Sound of Music, aku membayangkan tempat ini sama indahnya.

Ruteng dan biara Bunda Maria Berduka ...
Tempat yang sejuk, indah dan penuh rasa cinta...

Pengalaman terbang bersama Trans Nusa Airlines

(Melinda)

Yakinlah, ini bukan tulisan iklan. Jadi silakan terus membaca.

Kami mengenal Trans Nusa Airlines lewat internet. Maskapai penerbangan ini melayani penerbangan dari Bali ke pulau-pulau di Nusa Tenggara. Kalau melihat websitenya, tampaknya maskapai ini benar-benar membantu membuka keterisolasian wilayah Nusa Tenggara. Banyak rute penerbangan antar kota yang bahkan mungkin tidak dikenal namanya oleh banyak orang Indonesia. Lewoleba, Sabu, Tambolaka…mungkin merupakan nama-nama asing buat kebanyakan orang Indonesia. Berikut ini pengalaman kami bersama Trans Nusa.

Meskipun memiliki website, ternyata pemesanan dan pembayaran tiket tidak dapat dilakukan secara online. Jangan berharap bisa melakukan perbandingan tarif dengan penerbangan lain atau melihat ketersediaan tempat duduk pada hari-hari tertentu, karena tidak tercantum di websitenya. Menu drop on yang terpasang di websitenya hanya berfungsi sebagai papan informasi mengenai jadwal penerbangan. Untuk melakukan pemesanan tiket tetap harus melalui telepon ke kantornya di Denpasar atau Kupang atau beberapa kota lainnya. Kalau mau menghemat biaya dan punya cukup banyak waktu, bisa melalui email.

Bulan lalu, kami melakukan pemesanan tiket untuk penerbangan dari Denpasar ke Labuhan Bajo melalui email. Perlu beberapa hari untuk mendapatkan kepastian pemesanan karena kendala perbedaan waktu antara Denpasar dan Jakarta juga proses tanya jawab lewat email yang tidak selancar seperti melalui sms atau telepon.

Setelah pembukuan tiket, kami segera membayar harga tiket dan berharap akan mendapatkan e-ticket. Ternyata tidak sesederhana itu. Meskipun transaksi melalui internet banking sudah jelas-jelas berhasil, dan email jurnal transaksi sudah kami teruskan ke alamat email kantor di Denpasar, pembayaran kami belum diakui sah dengan alasan kantor di Kupang belum melihat transfer uang kami dalam print out di buku rekeningnya. Entah ada kesalahan di mana, baru satu minggu kemudian, ada kabar bahwa uang sudah mereka terima. Sebagai bukti, kami dikirimkan e-ticket yang berupa hasil scan print out tiket yang buram!

Urusan belum selesai. 3 hari sebelum keberangkatan, kami diberitahu bahwa penerbangan kami dibatalkan dan kami diberi pilihan untuk ikut penerbangan yang lebih pagi atau keesokan harinya, atau pengembalian uang. Kami tidak memilih yang terakhir dan bertekad mencari alat transportasi setiba di Denpasar saja. Pengembalian uang dijanjikan akan dilakukan pada hari Senin, sehari sebelum kami berangkat. Ternyata sampai hari Senin malam, tidak ada uang masuk ke rekening kami. Huuh… urusan dengan Transnusa ternyata belum selesai hingga saat terakhir.

Saatnya memulai liburan….

Setiba di Denpasar, ada 2 urusan. Pertama mengontak Transnusa untuk menagih janji. Setelah prosedur berbelit-belit, dipindah dari telinga yang satu ke telinga yang lain…. Kami dijanjikan akan menerima refund di rekening kami pada hari itu juga.(syukurlah, beberapa hari kemudian kami periksa di rekening kami memang kami telah menerimanya!) Urusan kedua, mencari penerbangan ke Flores. Ternyata mencari dan membanding-bandingkan penerbangan lebih mudah dilakukan di bandara dibandingkan lewat internet di rumah! Kami mendapatkan penerbangan ke Ende dengan maskapai Aviastar dengan transit di Tambolaka. Kami mendapat tempat duduk di deretan keempat.

Begitu masuk pesawat…
Astaga, ternyata ada tulisan Transnusa di bangku-bangkunya!
Waaaaa…… Kami berhubungan lagi dengan Transnusa! Rupanya Aviastar merupakan salah satu rekanan kerja Transnusa selain beberapa maskapai penerbangan lainnya.

Kami belum pernah mendengar nama Tambolaka dan cukup penasaran mengenai letaknya, karena itu kami menanyakannya pada pramugari. Ternyata mereka juga tidak tahu! Mereka hanya tahu kalau di sana ada resort. Mau tau di mana letak Tambolaka? Kami sudah mengetahuinya sekarang setelah melihat di buku Lonely Planet. Silakan cari sendiri.

Di Tambolaka, kami harus turun dari pesawat dan menunggu di ruang tunggu bandara yang kecil. Ada banyak calon penumpang lain yang sedang duduk. Kami bergabung dengan mereka . Tiba-tiba para calon penumpang berdiri dan bergerak ke arah pintu boarding. Karena kami lihat pintu belum dibuka, kami tenang-tenang saja. Tidak perlu buru-buru. Kami toh mendapat tempat duduk di depan, jadi tidak masalah bila paling akhir masuk pesawat. Kami tetap santai saat pintu dibuka dan membiarkan orang-orang berebutan keluar menuju pesawat.

Setelah kami menaiki pesawat…
Pesawat hampir penuh dan bangku-bangku di deretan keempat sudah penuh terisi. Juga bangku-bangku lainnya, kecuali bangku paling belakang. Ternyata duduknya ngacak!

Transnusa…oh…Transnusa……
Semoga makin banyak kota di Nusa Tenggara berkembang karena usahamu

TRIP KE FLORES, antara angan-angan, rencana dan perubahannya serta kejutan-kejutan

(Melinda)

Acara liburan kami tahun ini sudah diangan-angankan sejak berbulan-bulan yang lalu, namun hingga satu bulan sebelum keberangkatan belum ada rencana apa-apa, termasuk pembelian tiket perjalanan. Sudah lama kami berangan-angan pergi ke Pulau Komodo untuk melihat binatang purba satu-satunya di dunia yang masih hidup. Kami tidak bisa memastikan tanggal keberangkatan karena Aurima memiliki acara-acara lain yang cukup padat dengan waktu yang belum pasti. Akhirnya … satu bulan sebelumnya… kami mendapatkan kepastian masih ada 13 hari tersisa di penghujung liburan sekolah.

Akibatnya, tiket dan rute penerbanganpun kami cari dalam keadaan terburu-buru. Tentu dengan harga yang sudah melambung tinggi. Hasil perburuan tiket kami adalah penerbangan dari Jakarta ke Denpasar dilanjutkan dengan penerbangan dari Denpasar ke Labuhan Bajo pada tanggal 29 Juni dan penerbangan dari Denpasar ke Jakarta pada tanggal 11 Juli. Kemudian rencana mulai disusun. Perjalanan akan dimulai dari barat (Labuhan Bajo), menyusuri Pulau Flores ke arah timur dan berakhir di Ende. Dari Ende ada penerbangan bersambung menuju Denpasar melalui Kupang, namun belum kami beli karena tidak ada kepastian kesinambungan kedua penerbangan. Lalu aku mengontak beberapa teman di Kupang agar dapat bertemu setidaknya di Bandara Eltari.

Dua hari sebelum keberangkatan, ada pembatalan penerbangan dari Denpasar ke Labuhan Bajo dari pihak maskapai penerbangan! Jadi, kembali tidak ada yang pasti dalam rencana perjalanan kami selain tanggal keberangkan dan kepulangan. Dengan berbekal tiket penerbangan dari Jakarta ke Denpasar dan angan-angan bertemu komodo, kami berangkat.

Syukurlah, begitu tiba di Denpasar kami mendapat penerbangan ke Ende yang berangkat satu jam setelah kami tiba. Karena mepet, kami harus berlari-lari di bandara agar tidak tertinggal pesawat. Huuuhh… seperti di film Home Alone! Untung tidak ada yang tertinggal.

Semua rencana berubah, rute perjalanan berubah dari timur ke barat, begitu pula rencana bertemu teman-teman di Kupang terpaksa dibatalkan. Trip kami mulai dari Ende. Jauh di luar rencana semula, pada malam pertama kami sudah berada di Moni, kota kecamatan yang berada dekat danau Kelimutu.

Secara tidak sengaja, saat kami berjalan-jalan di Moni, kami memasuki desa adat. Belum komersil, karena belum ada di buku Lonely Planet, belum pernah dijual di internet. Memang areanya kecil, tidak sedahsyat Bena, misalnya. Namun, akibatnya kami dapat melihat kehidupan desa adat yang masih asli, tanpa polesan artifisial. Di dalamnya kami menjumpai bangunan-bangunan penyembahan yang berisi rangka nenek moyang penduduk setempat dan kuburan-kuburan, berdampingan dengan rumah tinggal penduduk. Di hari-hari selanjutnya kami melihat juga di tempat-tempat lain hingga Ruteng, masyarakat biasa tinggal berdampingan dengan kuburan. Kuburan bukan merupakan hal yang menakutkan atau angker tapi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Esok harinya, ketika masih gelap, kami berangkat untuk melihat matahari terbit di kawah Gunung Kelimutu yang berupa 3 danau itu. Saat itu danau berwarna hijau tosca, hijau tua dan merah tua.

Pada hari yang sama, kami kembali ke Ende dan berwisata dalam kota. Ende adalah sebuah kota yang indah, terletak di kaki gunung yang berhadapan langsung dengan pantai. Karena terletak di kaki gunung, udaranya sejuk. Seperti umumnya kota lainnya di Flores, Enda merupakan kota yang tenang. Kami mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno. Sayang saat itu sudah siang, sehingga tidak ada penjaga yang bertugas dan rumah tidak bisa dimasuki, kecuali pekarangannya.
Selain itu, ada lagi tempat bersejarah, yaitu Taman Renungan Bung Karno. Terletak tidak jauh dari pantai, di taman ini masih ada pohon sukun yang katanya merupakan tempat Bung Karno mendapatkan ilham tentang Pancasila. Taman ini menyatu dengan Taman Tenun Ikat yang merupakan kompleks rumah adat yang berbentuk rumah panggung. Di pinggir pantai ada tugu peringatan gempat tahun 1992 berbentuk tiang yang patah sehingga bagian atasnya bergeser.

Esok harinya, dengan mengendarai mobil sewaan kami menuju Bajawa. Di perjalanan, kami berhenti di Puskesmas Kecamatan Nangaroro untuk bertemu dengan Amanda, alumni SPRG Kupang tahun 90-an. Senang rasanya bertemu dengan mantan murid yang terlihat sangat matang sekarang dibandingkan belasan tahun yang lalu.

Menggunakan mobil sewaan ternyata menghemat waktu satu hari, karena wisata di sekitar kota Bajawa dapat dilakukan pada hari yang sama. Sebelum tiba di Bajawa, kami berhenti di Pantai Batu Hijau. Dinamakan demikian karena pantai ini dipenuhi batu-batu berwarna hijau.

Kemudian berhenti juga di Mataloko. Di sini ada bangunan-banguan gereja, sekolah, dan rumah retret yang didirikan oleh misionaris. Tempat yang indah dan sejuk dengan bangunan-bangunan berarsitektur menawan dengan latar belakang bukit-bukit hijau. Sungguh tempat retret yang menenangkan jiwa.

Selain itu, kami juga mampir di Bena, sebuah desa adat dengan bangunan-bangunan penyembahan dan kuburan yang unik berupa batu-batu tinggi berujung lancip yang dikelilingi oleh rumah-rumah kayu yang beratap ilalang yang didirikan di atas batu.

Setelah check-in di Bajawa dan beristirahat sebentar, menjelang sore kami pergi ke tempat pemandian air panas Mengenruda di Soa, di sebelah utara Bajawa. Udara di Bajawa sangat dingin, bahkan pada ketika kami tiba sekitar pukul 2 siang, karena itu mandi di sumber air panas membuat tubuh kami lebih hangat.

Setelah menginap semalam di Bajawa, kami melanjutkan perjalanan ke Riung dengan mengendarai bis umum. Di Riung kami menginap 2 mlam karena memerlukan satu hari untuk berwisata di Taman Laut 17 Pulau. Taman laut ini nyaris tidak tersentuh peradaban manusia, masih sedikit wisatawan yang mengunjunginya. Didukung pula dengan jalan sempit, turun naik dan berkelok-kelok untuk mencapai kota kecamatan ini.

Saat menunggu bis yang akan membawa kami meninggalkan Riung, ada seorang ibu memanggil namaku…. Ternyata Aurelia, alumni SPRG Kupang lagi! Wah, benar-benar tidak terduga! Di tempat terpencil ini bisa bertemu kenalan. Ada waktu cukup lama untuk bertukar cerita setelah belasan tahun tidak bertemu.

Dari Riung, kami melakukan perjalanan panjang penuh kelok dan turun naik ke Ruteng. Di Ruteng, kami sempat berkeliling kota dengan bemo sebelum diturunkan di biara Bunda Maria Menangis, tempat kami menginap. Seperti Bajawa, Ruteng juga berada di dataran tinggi. Ada banyak gereja dan biara di ruteng dengan bentuk bangunan yang bagus-bagus.

Kami menginap satu malam di Ruteng sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuhan Bajo dengan travel. Hari pertama di Labuhan Bajo kami menyelam di perairan Pulau Komodo. Esok harinya kami mengambil wisata dengan kapal selama 4 hari 3 malam sekaligus menyusuri jalan pulang ke arah barat. Perjalanan wisata ini meliputi snorkeling di Pantai Merah, Pulau kelor, trekking di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, menyaksikan kelelawar terbang pada malam hari dan mancing di perairan Pulau Komodo, mandi di air terjun di Pulau Moyo, melihat danau air asin di Pulau Satonda dan berakhir di Labuhan Lombok yang terletak di Lombok Timur ditambah perjalanan dengan mobil sampai Senggigi.

Malam terakhir cuti kami adalah menginap di Senggigi sebelum esok harinya naik kapal (lagi!) menuju Bali dan terbang menuju Jakarta pada malam harinya.

Liburan telah usai. Banyak tempat menarik dan peristiwa berkesan yang kami lewati. Besok Aurima sudah kembali masuk sekolah.