Tampilkan postingan dengan label Backpacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Backpacker. Tampilkan semua postingan

ITINERARI FLORES 29 Juni - 11 Juli 2010

Selasa, 29 Juni 2010
- Perjalanan dimulai dari Jakarta (0635) ke Denpasar, langsung cari tiket ke Flores. Dapat tujuan Ende, beberapa menit lagi boarding.
- Menuju Ende via Tambolaka. Dari Ende langsung ke Moni, tiba pukul 16.00. Setelah mencari dan menyewa kendaraan untuk Kelimutu, sempat berjalan-jalan ke desa adat di Moni.

Rabu, 30 Juni 2010
- Pukul 04.30 menuju Kelimutu dengan Kijang sewaan, setelah treeking pukul 05.30 tiba di puncak pandang Kelimutu untuk melihat 3 kawah atau danau tiga warna. Minum kopi dan makan2 kecil di atas, motret2 sampai habis batere, turun pukul 07.00 menuju Moni lagi.

- Pukul 10.00 dari Moni langsung menuju Ende kembali dan menginap satu malam sebelum menuju Bajawa. Sore hari di Ende, menghabiskan waktu jalan2 ke museum2 Pengasingan Soekarno, taman perenungan Soekarno, Museum Rumah Adat, dan Museum Bahari. Ada 4 objek wisata sejarah di sekitar situ yang semuanya cukup ditempuh dengan berjalan kaki dari hotel. Ada patung Soekarno dengan ukuran tidak proporsional di taman tersebut – terlalu kurus dan jangkung.
- Setelah sedikit kesal dan ribut dengan dua tamu hotel yang ngobrol2 dengan suara keras hingga larut malam, akhirnya bisa tidur juga. Pagi pukul 08.00 menuju Bajawa dengan mobil sewaan.

Kamis, 1 Juli 2010
- Andre, sopir kami, membawa kami dapat singgah di beberapa tempat. Pertama stop di pantai merah, sekitar 25 km dari Ende. Kemudian masih sempat stop sebentar di Puskesmas kecamatan untuk bertemu dengan teman lama yang menjadi perawat gigi di sana, baru stop di Seminari dan rumat Retret di dekat Bajawa. Sempat ngobrol sebentar dengan Romo Patris, SVD yang baru saja kami kenal.
- Waktu baru pukul 12.00, langsung ke desa adat Bena. Desa adat ini cukup luas dan masih tradisional; rumah2nya masih beratap rumbia. Cukup lama motret2 di sini, bahkan sempat mabuk karena baru pertama kali mencoba minum sopi. Minumnya di Bena, mabuknya di Bajawa, sekitar 30 menit kemudian.
- Sore pukul 17.00, sempat mandi2 di kolam air panas alam di dekat Bajawa. Segar betuuu...ll.

Jumat, 2 Juli 2010
- Siang pukul 13.00 menuju Riung dengan bis. Tiba pukul 17.30, cuma bisa cari makan dan tidur.

Sabtu, 3 Juli 2010
- Pagi2 pukul 06.00 ke pelabuhan cari2 boat untuk pesiar ke Pulau 17. Pukul 08.00, setelah sarapan dan menyiapkan bekal makan siang, menuju Pulau 17 di Riung dengan boat. Main2 air dan snorkeling sampai puas, cape, dan gosong, pukul 14.30 kembali ke darat.

Minggu, 4 Juli 2010
- Pukul 07.00 menuju Ruteng via Bajawa. Sebelum naik bis sempat ketemu teman lama lagi – tak terduga – yang menjadi perawat gigi di Riung. Bis penuh sesak. Perjalanan panjang dan jauh, tiba di Ruteng pukul 17.00, untung dapat kamar nyaman dan bersih di Susteran Maria Berdukacita.

Senin, 5 Juli 2010
- Pukul 11.00 (padahal sudah siap sejak pukul 07.00) menuju Labuanbajo dengan travel. Tiba di Labuanbajo pukul 15.00, masih bisa cari2 agen jalan2 dan diving, dan menetapkan pilihan cara sampai di Lombok atau Bali.

Selasa, 6 Juli 2010
- Ga jelas antara diving, kursus ulangan, atau jaga kapal. Pokoknya Bajo Dive Center tidak memberi kesan baik sepanjang hari itu.

Rabu, 7 Juli 2010
- Mulai perjalanan pukul 09.45 menuju Lombok dengan kapal kayu. Pak Mamang adalah komandannya, dibantu 3 kru dan 1 siswa latihan dari sekolah wisata. Persinggahan pertama di pulau Rinca, trekking 2 jam lebih, ketemu 6-7 komodo. Cukup puas deh, capenya juga mantap. Rinca panas banget, tapi trekking menyenangkan. Sebelum meninggalkan pelabuhan Rinca, melihat dua perahu milik orang Bajo.
- Terus berenang2 di atas taman laut di Pulau Kelor, tidak jauh dari Rinca, lumayan indah tapi sayang ga sempat motret2. Malamnya tidur di atas kapal ini di dekat pulau Kalong, masih di kawasan Pulau Komodo, ada banyak kalong senja dan menjelang fajar.
- Sempat mancing2 beberapa ikan dulu sebelum tidur. Ikan2nya kecil2, tetapi lumayan untuk menambah menu sarapan besok.
- Malam pertama di kapal kayu; supaya ga rugi, bisa mimpi seram dikejar2 drakula di sini.

Kamis, 8 Juli 2010
- Pagi2 setelah sarapan nasi goreng plus ikan2 goreng tadi malam, kapal kayu berlayar lagi menuju Pulau Komodo. Di pulau ini, trekking 1 jam saja, dan cuma ketemu 1 komodo lamayan besar. Burung2 memang banyak, tetapi hewan lain ga ada. Bagaimana pun puaslah hati, karena sudah tiba di Pulau Komodo dan melihat komodo2 sejak kemarin.
- Kemudian menuju Pantai Merah (Pink Beach), taman lautnya indah sekali. Kali ini sempat memotret lho.
- Siang mandi2 lagi di pantai bertaman laut, tetapi tidak sebagus Pantai Merah. Pak Samsudin (kru kapal) sempat mengambil cumi besar untuk makan siang.

Jumat, 9 Juli 2010
- Setelah sepanjang sore dan malam kapal layar berlayar terus tak henti, pagi2 tiba di Pantai Satonda, melihat dan mandi2 sedikit dengan takut di danau air asin. Buru2 pergi aja.
- Menuju air terjun air tawar, 3 jam perlayaran. Tiba pukul 13.00, mandi sepuas2nya dengan air tawar gratis, walaupun berjalan cukup jauh dari pantai ke tempat ini pergi-balik.
- Kru kapal juga menyempatkan diri untuk mencuci pakaian, mandi, dan mengambil air bersih untuk keperluan di kapal.
- Dari tempat ini, kapal berkayar terus menuju Lombok. Tiba di darmaga Lombok Timur pukul 21.00, tidur dulu di kapal malam ke-3 ini, karena jemputan baru datang besok pagi.

Sabtu, 10 Juli 2010
- Pukul 08.00 datang jemputan dan membawa kami ke Senggigi. Tidur satu malam lagi. Ini malam terakhir perjalanan, dapat kamar nyaman tetapi makanan ga mantap.
- Di Lombok cuma untuk mencari transportasi ke Denpasar dan istirahat dengan mandi sepuas2nya setelah 72 jam irit air di kapal kayu.

Minggu, 11 Juli 2010
- Pagi pukul 09.00 kembali Denpasar dengan kapal kayu (kali ini dengan ukuran besar dan cukup mewah) menuju Pandang Bay, kemudian lanjut dengan bis menuju Bandara Ngurah Rai via Ubud dan Sanur.
- Tiba Jakarta pukul 22.15. Badan lelah, tetapi hati senang dan puas.
- Kesampaian juga akhirnya melihat komodo di habitat aslinya: Rinca dan Komodo.

Tahun depan kira2 ke mana lagi ya ...?

ANTARA BANGKOK DAN CHUMPHON

Salah satu pengalaman menarik kami di Thailand adalah mandi di Stasiun Kereta Api Hualamphong, Bangkok. Jangan bayangkan toilet di Stasiun Gambir. Toilet di Hualamphong sangat bersih dan terawat. Dengan membayar 20 baht (sekitar Rp 6.000,-), toilet ini dapat dimanfaatkan untuk buang air, mandi, sikat gigi dengan nyaman. Pengalaman ini adalah salah satu kenekadan kami selama di Thailand. Kami membatalkan rencana menginap di Bangkok 1 malam lagi setelah pulang dari Kanchanaburi sebelum melanjutkan perjalanan ke arah selatan, tepatnya ke Chumphon yang dilalui kereta api juga sebelum menuju Ko Tao, salah satu pulau di Teluk Thailand.

Ketika kami berada di luar Stasiun Hualamphong, ada seorang perempuan yang menghampiri kami dan menanyakan tujuan kami. Sepertinya calo. Bedanya dengan calo di Indonesia, orang ini tidak memaksa atau membututi kami terus menerus. Kami tidak merasa terganggu dengan calo ini. Di dalam stasiun yang ukurannya sangat besar, ada beberapa orang berseragam yang salah satunya menyapa kami dengan bahasa Inggris yang sangat baik. Rupanya ini adalah customer service stasiun. Dari orang ini kami mendapat informasi mengenai tiket kereta yang harus kami beli berikut kelas yang tersedia, harga, waktu keberangkatan serta waktu tempuh. Dari orang ini pula kami mengetahui bahwa di stasiun ini kami dapat membeli tiket terusan hingga Koh Tao, artinya selain tiket kereta api, kami bisa membeli tiket ferry plus mobil jemputan dari stasiun sampai dermaga ferry. Enaknya menjadi turis di Thailand......

Setelah tiket sleeper train (yang gambarnya ada di bagian atas kiri tulisan ini) ada di tangan, masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum keberangkatan kereta. Berarti cukup waktu untuk mandi dan makan malam. Mandi di stasiun kereta api! Sebuah pengalaman yang belum pernah kami alami sebelumnya, mandi dalam arti sesungguhnya! Tubuh terasa benar-benar segar dan bersih setelah mandi. Berbeda dengan pengalaman mandi koboi di Hoi An tahun lalu.

Di Stasiun Hualamphong, seperti umumnya stasiun kereta api lainnya, banyak dijumpai kios makanan. Ada banyak pilihan makanan. Kami memilih makan di foodcourt yang menjual makanan-makanan khas Thailand.

Ada hal unik yang terjadi tepat pk. 18.00. Sebuah lagu dikumandangkan, dan semua orang (kecuali turis asing, mungkin) berdiri tegak dengan sikap hikmat hingga lagu berakhir. Setelah beberapa hari di Thailand, kami baru mengerti. Rupanya setiap hari, pada pk. 18.00 lagu kebangsaan Thailand dikumandangkan, termasuk di TV dan semua orang harus menghormatinya dengan berdiri tegak. Hal ini mengingatkan kami pada kebiasaan mengheningkan cipta di Indonesia setiap tanggal 10 November yang belasan tahun yang lalu dicanangkan. Kebiasaan yang sulit sekali dibentuk, dan beberapa tahun belakangan malah memudar.

Pk. 19.30 kereta api berangkat. Ketika kami memasuki gerbong, tidak nampak sama sekali gerbong kami adalah sleeper train. Bentuknya sama seperti gerbong lain, dengan bangku yang berhadap-hadapan. Di gerbong itu ada seorang pertapa Budha yang ramah sekali. Dia berusaha menolong kami mencari tempat duduk kami dan menanyakan tujuan kami. Darinyalah, aku mengetahui cara melafalkan Chumphon. Bunyinya sama seperti tulisannya dengan aksen di 'ph', yang dibunyikan seperti yang tertulis, bukan 'f '. Sekitar pk 21.00, ketika kantuk sudah mendera, barulah tempat-tempat tidur dibuka oleh petugas. Tempat tidur dengan sprei, bantal bersarung, selimut serta tirai yang baru dibuka dari kemasan laundry.

Meski tempat tidur cukup nyaman, tidurku tidak nyenyak. Beberapa kali aku terbangun karena kereta berhenti. Setiap kali berhenti, aku melihat jam karena menurut jadwal, kereta akan tiba di Chumphon pk. 3.45. Jangan sampai nanti terlewat! Sekitar pk. 3.30 ada sepasang turis muda yang bersiap-siap turun, membawa ransel dan kopernya, berjalan menuju pintu keluar gerbong yang masih terkunci dan berdiri di depan pintu. Kami juga bersiap-siap, mengikutinya. Hingga pk. 4.30 pintu belum juga dibuka, meski kereta sudah beberapa kali berhenti. Sungguh membingungkan dan tidak ada orang yang bisa ditanya. Pertapa Budha itu berusaha menolong kami dengan melihat nama stasiun tempat kereta berhenti dan menjelaskan bahwa Chumphon masih ada di depan. Namun usaha pertapa ini tidak menghilangkan kebingungan kami.

Hingga matahari terbit, kami masih dalam kebingungan. Akhirnya menjelang pukul 7, kereta api tiba di Chumphon. Rupanya di Thailand berlaku juga kata terlambat dan yang menakjubkan, terlambatnya hingga 3 jam lebih!

Jika mengikuti jadwal, ferry menuju Koh Tao berangkat pk 7.00. Rupanya cukup banyak penumpang kereta yang akan melanjutkan perjalanan ke Koh Tao dengan ferry yang sama dengan kami, jadi keberangkatan ferry ditunda. Jadi keterlambatan kereta api tidak membuat kami ketinggalan ferry yang tiketnya sudah kami beli di Bangkok. Untunglah.....

Melinda

Jumat Agung di Larantuka

Peringatan Paskah tahun 1993 merupakan pengalaman istimewa buatku. Kamis Putih tahun itu kebetulan jatuh pada tanggal yang sama seperti tahun ini, 9 April. Libur Paskah di NTT dimulai sejak hari Kamis sampai dengan Senin. Ada tradisi yang mirip seperti tradisi Lebaran di Jawa, banyak orang melakukan mudik ke Larantuka di Flores Timur untuk menjalani prosesi jalan salib.

Tiada hari libur panjang di Kupang tanpa jalan-jalan... (benih-benih backpacker tertabur dan bersemi selama 2 tahun aku di Kupang!) Aku memanfaatkan libur panjang ini dengan melakukan perjalanan 'mudik' ke Larantuka bersama Kons dan seorang siswi SPRG. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Tenau dengan menumpang kapal feri yang pernuuuuuuhhhhh sesak. Di mana-mana manusia, juga di tempat parkir mobil. Di situlah aku berada bersama 2 rekan seperjalananku. Angin sangat besar. Rupanya ada ABK yang merasa jatuh kasihan dan menawarkan kamarnya untuk kami pakai. Biasanya orang harus membayar Rp.25.000,- agar dapat menempati kamar itu. Berhubung aku tidak minta tapi ditawari... ya gratis lah! Lumayan, bebas dari angin. Tapi lama kelamaan tidak betah juga, karena panas dan sumpeg.

Tiba di Larantuka sore hari. Aku menginap di rumah Ina, dokter gigi senasib - sama-sama sedang menjalani wajib kerja sarjana. Mungkin karena merasa senasib, dia mengijinkan aku menginap di sana, meskipun baru hari itu kami berkenalan. Hahaha...sok akrab saja!

Larantuka adalah ibukota kabupaten Flores Timur yang merupakan kota kecil di tepi pantai yang juga berada di kaki gunung. Saat itu masih tampak bekas-bekas longsoran di lereng gunung akibat gempa besar tahun 1992. Di seberang laut ada pulau Adonara dan Pulau Solor yang sangat jelas terlihat. Pemandangannya sangat indah.

Masyarakat Larantuka memiliki tradisi unik dalam merayakan Paskah. Ada prosesi panjang yang dilakukan, dimulai sejak hari Rabu. Hari Jumat ada prosesi jalan salib yang dilakukan oleh seluruh penduduk kota Larantuka, pemudik dan peziarah dari kota-kota lain, bahkan dari luar negeri. Prosesi ini disebut Semana Santa.

Berkat koneksi sana-sini, aku mendapat kartu "pemotret". Dengan menggunakan kartu itu, aku mendapat kebebasan untuk lalu-lalang di sepanjang rute prosesi. Prosesi Semana Santa sudah dilakukan masyarakat Larantuka sejak abad ke-16 ketika bangsa Portugis masih berada di sana, katanya.

Prosesi jalan salib dimulai jam 1 siang dengan diaraknya Salib Tuan Menino (=Yesus kanak-kanak dalam bahasa setempat). Perarakan dimulai dengan menyeberangi selat antara Larantukan dan Pulau Adonara. Salib dibawa dalam kapal bercadik yang diikuti beberapa kapal lain di belakangnya.

Masyarakat berkumpul di pantai Kelurahan Pohon Sirih, menanti arak-arakan di laut. Setelah mendarat, salib diarak menyusuri jalan-jalan di Larantuka. Arak-arakan didahului oleh orang-orang berjubah putih yang disebut confreira, diikuti orang-orang berbaju hitam dan pengusung salib. Di suatu tempat, salib ini diletakkan.

Sementara itu di tempat lain, ada arak-arakan membawa patung Tuan Ma (sebutan untuk Maria)dan Tuan Ana (sebutan untuk Yesus Kristus)dari kapel ke Katedral. Arak-arakan ini terdiri dari beberapa unsur, mulai dari anak-anak, pembawa genderang, dan alat-alat lain.

Salib Tuan Menino serta patung-patung Tuan Ma dan Tuan Ana merupakan peninggalan bangsa Portugis. Larantuka merupakan kota kecil, sehingga untuk mendapatkan gambar kedua prosesi di tempat yang berbeda ini, aku bisa bolak-balik berlari dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

Jam 3 siang, setelah Tuan ana dan Tuan Ma tiba di Katedral, umat melakukan ibadah Jumat Agung. Setelah itu, ada ritus yang dilakukan dipemakaman tidak jauh dari Katedral. Umat berdoa dan memasang lilin di makam-makam dan tugu yang berada di tengah pemakaman.

Kemudian umat melakukan prosesi yang dimulai dari Katedral, keliling kota Larantuka, lalu kembali lagi di Katedral. Prosesi ini diikuti oleh seluruh penduduk Larantuka, pemudik dan peziarah dari luar kota, luar daerah, bahkan ada yang dari luar negeri, membentuk barisan yang sangat panjang sambil menyanyikan lagu yang kalau didengar sepintas seperti tangisan ribuan orang. Tidak semua bisa masuk ke Katedral. Aku cukup beruntung karena bisa masuk ke dalam Katedral dan mendapat tempat di deretan paling belakang. Ada beberapa ritus yang dilakukan, mulai dari nyanyian beberapa orang perempuan berkostum serba hitam hingga membuka gulungan lukisan wajah Yesus. Suasana yang tercipta di Katedral dan sekitarnya saat itu mencekam.

Prosesi ini berlangsung hingga tengah malam. Di sepanjang jalan, lilin-lilin menyala. Lilin-lilin ini dibuat sendiri oleh masyarakat Larantuka dan dipasang di kiri-kanan jalan di atas pagar bambu yang khusus dibuat pada hari itu. Pemandangan malam itu terlihat indah sekali : lautan cahaya lilin, sementara udara kota dipenuhi oleh suara umat yang menyanyi. Malam itu aku agak sulit tidur karena pengalaman yang baru kujalani seharian tadi menggetarkan jiwaku.

Aku harus kembali ke Kupang pada hari Sabtu, karena kapal feri dari Larantuka menuju Kupang hanya ada pada hari Sabtu dan Selasa. Bisa saja aku nekad pulang hari Selasa, artinya baru mulai bekerja lagi pada hari Rabu. Tapi saat itu aku merasa sungkan, karena bulan sebelumnya aku baru saja korupsi waktu ketika aku mengambil Akta Mengajar di Malang dengan menunda waktu pulang beberapa hari. Jadi aku pulang hari Sabtu. Suasana kota Larantuka pada saat aku meninggalkannya sunyi senyap, seperti kota mati. Benar-benar tidak ada kegiatan pada hari Sabtu Sunyi.

Di kapal feri, aku ditawari duduk di dalam mobil seorang dosen Universitas Nusa Cendana yang baru pulang menengok mahasiswanya yang KKN. Lumayan, angin tidak terlalu besar, karena terlindung dinding mobil. Aku sempat ditawari kamar oleh ABK yang sama seperti waktu berangkat. Terimakasih....hehehe...aku tidak tahan panasnya!

Melinda

Delta Sungai Mekong, salah satu contoh keunggulan Vietnam menjual wisata

3 Juli 2008

Hari ini kami ikut tour ke Delta Sungai Mekong, salah satu delta sungai terbesar di dunia. Sebetulnya lebih tepat disebut delta-delta, karena jumlahnya banyak.

Lebar muara sungai Mekong 2 km. di muara sungai Mekong terdapat banyak delta yang cukup besar sehingga bisa dihuni membentuk perkampungan, juga perkebunan. Dengan biaya $9, kami dibawa untuk merasakan sensasi menaiki perahu,




sampan, delman,

berhenti di tempat yang menyajikan aneka buah yang ditanam di delta, menyaksikan kesenian setempat, bersentuhan dengan ular phyton (cuma diriku diantara kami bertiga yang agak berani dipeluk ular, meski sambil teriak-teriak ketakutan. hehehe...),



makan siang dan mengunjugi pabrik pembuatan permen dari kelapa.

Dari pengalaman 11 hari berwisata di Vietnam, kami melihat Vietnam memang siap menjual pariwisata. Tempat-tempat wisata mudah dijangkau karena ada banyak agen travel yang menjualnya. Bukan hanya turis luar negeri, orang Vietnam sendiri juga menggunakan agen yang sama. Ada koordinasi yang bagus dalam pengaturan turis-turis. Misalnya wisata ke Mekong ini. Ada beberapa jenis wisata Mekong yang ditawarkan, mulai dari wisata 1 hari, 2 hari, 3 hari sampai yang menyeberangi Kamboja atau Thailand, berikut pengurusan visanya. Pengaturan sedemikian rupa baiknya, sehingga dalam 1 minibus kami bisa bertemu dengan turis dengan program yang berbeda tanpa merasa terganggu satu sama lain. Contoh lain yang memperlihatkan kesiapan Vietnam dalam menjual pariwisata adalah pengalaman di salah satu delta yang menyajikan pertunjukan kesenian. Sedemikian teraturnya, meskipun ada beberapa rombongan turis, pertunjukan bisa disaksian bergiliran tanpa turis merasakan telah melakukan antre sebelumnya.

Belum lagi kendaraan-kendaraan untuk membawa turis. Selain bis yang bagus, turis bisa juga menggunakan kereta api atau pesawat terbang.

Kemudian, tempat-tempat wisata yang ditawarkan. Hampir semua tempat wisata merupakan barang baru, artinya kalaupun merupakan peninggalan sejarah, bukan merupakan peninggalan berabad-abad. Cu Chi Tunnel, misalnya, usianya belum setengah abad,. Atau kuburan-kuburan raja Nguyen usianya belum mencapai 2 abad. Tapi bisa menjadi tempat wisata yang menarik.

Satu hal lagi yang menarik, kami nyaris tidak pernah melihat tumpukan sampah yang tidak pada tempatnya. Jalan-jalan bersih, begitu juga pasar. Di bawah setiap meja makan restoran disediakan tempat sampah, jadi tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan. Dan.... anehnya, meskipun lalu lintas ramai, terutama di Saigon, udara terasa bersih. Upil bisa jadi indikator kebersihan udara kan? Selama di vietnam, nyaris hidung kami bersih. Begitu juga dengan rambut yang tidak perlu dikeramas tiap hari seperti di Tangerang. Dan kami tidak takut-takut mencoba kebiasaan orang Vietnam yang makan sambil duduk di kaki lima di pinggir jalan yang cukup ramai lalu lintasnya.





Melinda

War remnant museum dan reunification palace di Saigon

4 Juli 2008


Hari ini adalah hari terakhir kami di Vietnam. Masih ada beberapa jam sebelum check in di bandara. Jadi setelah check out dari hotel jam 7 pagi, kami mengunjungi war remnant museum dan reunification palace di dalam kota Saigon, sambil membawa ransel-ransel kami. Di War Remnant Museum kami melihat foto-foto jaman perang Vietnam Selatan dan Utara, kendaraan-kendaraan perang, senjata, bom. Yang paling menarik adalah bangunan penjara. Entah bekas bangunan penjara sebenarnya atau bukan, tapi bangunan itu menunjukkan jahatnya perang. Ada beberapa sel yang berisi "tahanan perang" dengan wajah yang membuat hati kami ngilu.


Di Museum kami mendapat kabar Mama terserang stroke. Hal ini membuat kami tidak nyaman lagi dan ingin waktu segera berlalu.

Reunification palace terletak tidak jauh dari museum. Gedung ini masih digunakan sebagai kantor. Letaknya di sebuah taman yang besar. Meskipun dekat dari museum, tapi karena kami tidak tahu letak pintu masuknya, kami mengelilingi 3/4 taman untuk mencapai pintu gerbang masuk ke palace. Lumayan lelah, karena kami berjalan sambil menggendong ransel. Istana ini mirip-mirip dengan gedung asia-afrika di Bandung, hanya jauh lebih besar. Mirip dalam hal kandungan sejarahnya. Gedung terdiri dari 4 lantai, masing-masing lantai mempunyai beberapa ruang bersejarah, mulai dari ruang rapat, ruang nonton film, kamar, ruang judi.... Entah karena bawaan perasaan hati yang sudah tidak karuan atau memang tempat ini tidak menarik.... rasanya tidak ada kesan yang mendalam bagi kunjungan ke gedung ini.

Liburan kami berakhir di pinggir taman tidak jauh dari reunification palace, sambil makan Bahn Bao (bapao) yang kami beli di depan hotel tadi pagi. Rasanya sedikit berbeda dengan yang ada di Jakarta, karena ada daun basil dan daun-daun lain yang biasanya ada di Bahn Mi. Enak. Liburan yang sangat berkesan. Rasanya 11 hari belum cukup, karena masih banyak tempat-tempat menarik yang belum kami kunjungi. Mudah-mudahan ada lain kali......


Melinda

Wisata dengan bis antara Hue - Saigon


1 Juli 2008

Hari ini kami berangkat ke Saigon naik bis. Rute pertama ditempuh dengan bis biasa selama 4 jam dari Hue ke Hoi An. Pemandangan sepanjang jalan bagus. Kami melewati pantai, danau dan terowongan sepanjang 6,3 km yang menembus gunung. Di Hoi An kami berhenti 5,5 jam, kami memanfaatkannya dengan mengelilingi kota tua di Hoi An.

Kota ini banyak dipengaruhi budaya Cina, terlihat dari bangunan-bangunanny a. (Menurut buku Lonely Planet, bukan hanya Cina, tapi juga Jepang dan Eropa) Kota ini terletak di pinggir laut, bentuk jalan-jalan di kota tua mirip di Kuta, tapi jauh lebih sepi.

Beberapa hari yang lalu kami menyaksikan di TV siaran langsung pesta miss universe yang diadakan di kota ini. (Ada putri dari Indonesia lho! Yang menarik, mereka terus mengipas-ngipas karena panasnya, dan harus tetap cantik! Ada juga sih yang mukanya jadi ga karuan karena keringat) Kami melihat jembatan yang menjadi panggung tempat putri-putri seluruh dunia melepas lilin di dalam bunga teratai dari kertas ke sungai. Panggung sudah mulai dibongkar.


Hari-hari terakhir rasanya seperti diburu-buru, wisata yang kami lakukan hanya untuk mengisi waktu yang ada sebelum bis berangkat. Tapi kami menikmati suasana kota yang berbeda dibanding kota-kota lain yang sudah kami kunjungi beberapa hari yang lalu. Ada jembatan buatan Jepang di kota tua ini, tapi kami tidak berhasil menemukannya. Sepertinya agak jauh.
 
Setelah mengelilingi kota tua, masih ada waktu 2 jam sebelum bis berangkat. Kebetulan ada warnet, 1 jam kami pakai untuk buka yahoomail... waw! sudah ratusan email belum dibuka.

Sebelum naik bis lagi, kami sikat gigi, cuci muka dan tangan di kantor agen bus. Lumayan, terasa lebih segar, meskipun tidak mandi. Setelah itu, sejak jam 6 sore itu, kami terus berada di dalam
sleeper bus selama 25 jam. Berhenti cuma untuk ganti bis di Nha Trang besok paginya dan makan siang . Sebelum berangkat, kami sempat makan Bahn Mi, hotdog ala Vietnam yang kami makan di Saigon beberapa hari yang lalu. Isi Bahn Mi ternyata bervariasi, baik bentuk olahan babinya, pastanya maupun isi lainnya. Itu makan terakhir kami sebelum makan siang jam 13.30 esok harinya yang juga kurang berbobot, hanya noodle soup.

Sebetulnya, menurut jadwal, di Nha Trang ada waktu 2 jam sebelum pindah ke bis lain. Tapi bis pertama sempat berhenti
untuk ganti ban dan terhambat macet karena kecelakaan. Jadi kami tiba di Nha Trang terlambat 3 jam. Nha Trang adalah sebuah kota pantai juga. dan kelihatannya paling modern dibanding tempat lainnya di Vietnam. Banyak hotel berbintang di Nha Trang. Mungkin karena itulah kota ini dipakai sebagai tempat penyelenggaraan pemilihan Miss Universe. Sayang, kami cuma bisa lewat saja. Sekali lagi ... mudah-mudahan nanti ada kesempatan lagi untuk ke sini.

Kami tiba di Saigon jam 7 malam. Rasanya lega sekali bisa keluar dari bis ini dan bisa hidup normal lagi. Selama di bis, sebisa mungkin kami minum tidak banyak, supaya tidak usah keluar untuk buang air. Hal ini disebabkan karena posisi kami di bis tidak enak, di deretan paling belakang, tingkat atas. Jadi harus sedikit berakrobat untuk naik dan turun. Begitu sampai Saigon, masuk hotel, langsung minum sepuasnya, makan, mandi..... segar bener.....

Melinda

Hue, kota kuburan

30 Juni 2008

Kami mencapai Hue pagi hari dengan sleeper bus. Buat kami, ini merupakan pengalaman baru. Bis ini terdiri dari 3 baris tempat tidur bersusun 2, khusus bagian belakang terdiri dari 5 tempat tidur berjejer, juga bersusun 2. Bis ini memang dibuat untuk mengangkut penumpang yang ingin tidur di perjalanan. Tempat tidur cukup panjang dan lebar untuk tidur 1 orang, meskipun sulit untuk bergerak. Setidaknya lebih nyaman dibanding bis biasa, yang tidak memungkinkan orang untuk berbaring.


Di Vietnam ada yang disebut "open tour bus" dari Saigon ke Hanoi dan sebaliknya serta berhenti di beberapa kota di antara kedua kota tersebut. Penumpang dapat turun di kota mana saja untuk singgah beberapa jam atau beberapa malam di kota yang dilewati bis ini, dan melanjutkan ke kota lain. Kalau kita membeli tiket open tour bus, harganya jauh lebih murah dibanding kalau tiket tersendiri untuk setiap rute. Ada dua jenis bis yang tersedia, yaitu bis biasa dan bis "sleeper" .

Kami tiba di Hue jam 8 pagi. Tanpa sempat mandi, kami langsung mengikuti city tour. Kami dijemput di hotel dengan sebuah mobil minibus. Kami kehilangan satu tempat tujuan wisata, mungkin 2, karena kesalahan informasi. Info yang kami dapat, bis akan tiba di Hue jam 6 pagi. Kami telah membeli tiket Hue city tour di Hanoi dengan asumsi kami tiba di Hue jam 6 pagi dan langsung mengikuti tour.



Sepertinya Hue adalah tempat tinggal Ho Chi Minh, karena kami melihat ada sekolah, rumah dan monumennya. Di Hue ada 13 kuburan raja dinasti Nguyen, kami mengunjungi 3 kuburan di antaranya. Kuburannya bagus-bagus, areanya luas dan bangunannya seperti istana.
Salah satunya berada di tepi danau, ditambah taman-taman di sekeliling bangunan membuat pemandangan di sekitar kuburan menjadi bagus. Tempat lainnya yang kami kunjungi adalah rumah tua dengan latar belakang budaya Cina.
Terakhir, kami mengunjungi pagoda yang letaknya di pinggir Perfume River. Disebut perfume river karena di tepi sungai tumbuh tanaman perdu yang wangi.

City tour diakhiri dengan menaiki perahu besar menyusuri Perfume River yang cukup lebar.
Sebetulnya dekat Hue ada tempat menarik, yaitu Demiliterization Zone (DMZ). Hue dulunya merupakan kota perbatasan antara Vietnam Utara dan Selatan. Sayang, kami tidak punya waktu untuk mengunjungi DMZ karena dikejar waktu yang tinggal sedikit lagi. Kami harus tiba di Saigon tanggal 2, supaya bisa kembali ke Jakarta tanggal 4. Kami tinggal di Hue hanya 1 hari, 1 malam. Kalau ada lain kali, Hue pasti akan kami kunjungi lagi.

Ha Long, tempat naga kecebur

27-29 Juni 2008



Ha Long adalah sebuah pantai di teluk Tonkin, kira- kira 4 jam perjalanan dengan bis dari Hanoi. Ada beberapa jenis tour yang ditawarkan di Hanoi untuk tujuan Ha Long, mulai dari tidur di kapal sampai bermalam di pulau Cat Ba dengan macam-macam pilihan wisata. Kami memilih malam pertama tidur di kapal dan malam kedua di Cat Ba.


 Dari kota Ha Long, kelihatan puluhan pulau kecil berbentuk bukit cadas. (Ternyata, buku Lonely Planet menyebutkan ada 3000-an pulau!). Pemandangannya baguuuus sekali! Kata orang yang pernah ke China, seperti di Quilin. Ada yang bilang, lebih bagus daripada Quilin. Dalam bahasa Vietnam, Ha Long berarti tempat naga kecebur. Yang terlihat di permukaan laut adalah duri-duri bagian ekor naga.

Wisata di Ha Long Bay dimulai ketika kami memasuki kapal dan menikmati sajian makan siang ala keluarga Vietnam. Makanan terdiri dari nasi dan beberapa lauk pauk. Sayangnya perkakas makan kami berupa piring, garpu dan pisau. Karena kami dianggap kaum barat, tidak bisa pakai sumpit. Bersama kami ada rombongan yang terdiri 2 keluarga Vietnam, mereka makan dengan mangkok dan sumpit. Karena lapar dan semangat dengan makanan yang disajikan, kami makan sampai tidak memperhatikan pemandangan di laut yang bagus sekali.

Begitu selesai makan, tau-tau kami sudah sampai di pinggir Luon Cave, salah satu pulau yang mempunyai gua stalalgtit-stalagmit. Gua dihiasi lampu warna-warni yang membuat keindahan ukiran alam terlihat jelas. Betul-betul menakjubkan!



Kami juga berhenti di dekat sebuah pulau atol, kemudian naik perahu kecil untuk memasuki perariran di dalam atol melalui gerbang alam terbuat dari karang. Di perairan dalam atol tersebut, kami berenang. Suatu pengalaman yang tidak terlupakan karena selain menyenangkan, juga menyisakan luka-luka baret di tapak kaki karena menginjak benda-benda tajam di dasar laut. 



Sore hari, kapal berhenti di tengah laut. Di sekitar kapal, kami berenang dan main kayak. Seru! Setelah itu kapal berhenti beberapa ratus meter dari pulau Cat Ba. Kami bermalam di kapal. Sayang, malam itu hujan turun. Jadi kami tidak dapat menikmati pemandangan langit.

Kegiatan out-bond bukan pilihan satu-satunya. Bila tidak tertarik dengan air laut, kapal tempat kami menginap memiliki tempat berjemur di bagian atas. Tempat berjemur bagi segala macam : kulit, baju renang, handuk, sepatu, ransel dan baju dalam. Di sini kami dapat menikmati pemandangan laut lepas yang tenang, indah dan udara yang segar.

Besok paginya, kami mendarat di Cat Ba. Wisata pertama adalah berjalan di Taman Nasional. Kami berjalan selama 3 jam mendaki bukit yang tingginya 300 meter di atas permukaan laut. Sepertinya mudah, tapi ternyata perjalanan ini sangat berat buatku, terutama saat mendaki. Bernafas terasa sulit sekali, betis terasa sakit. Begitulah, kalau tidak pernah olah raga, tiba-tiba melakukan kegiatan fisik berat. Berbeda dengan Aurima yang betul-betul menikmati treking ini.

Kami merasa beruntung karena cuaca cukup bersahabat pada kami. Pengalaman 2 teman asal Singapura yang kemarin bersama-sama tour ke Perfume Pagoda, tidak sebaik kami. Mereka berada di Ha Long sehari sebelumnya dan merasakan panas yang menyengat.


Setelah makan siang, kami main kayak. Semula tujuannya adalah mencapai pulau kera yang letaknya 500an meter dari pantai. Tapi kami tidak berhasil mencapai pulau tersebut, karena rasanya tenaga tidak cukup. Ternyata mendayung kayak itu melelahkan, apalagi energi udah banyak terserap waktu treking tadi pagi.

Malam itu kami menginap di Cat Ba.

Besok paginya kami kembali naik kapal ke Ha Long. Di tengah laut, kapal berhenti 30 menit memberi kesempatan penumpang untuk berenang. Tapi kami tidak berenang karena sudah lelah. Sepanjang jalan kami sekali lagi menyaksikan keindahan alam yang rasanya berubah terus setiap meter kami bergerak.







Vietnam memang tempat yang nyaman bagi backpacker, banyak fasilitas yang mempermudah di antaranya adalah fasilitas kamar mandi dan penitipan barang di travel agent. Sebelum kami pergi ke Ha Long, kami menitipkan sebagian barang-barang kami di kantor travel agent, jadi kami tidak perlu membawa terlalu banyak barang. Sekembalinya dari Ha Long, kami bisa mandi di kantor yang sama dan tanpa perlu menginap lagi, dapat melanjutkan perjalanan ke Hue (arah selatan) dengan sleeper bus selama 12 jam.



Melinda