HO CHI MINH CITY, KAMI DATANG LAGI !


Melinda

Jam setengah delapan malam kami mendarat di bandar udara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City. Semua berjalan lancar. Kami merasa disambut dengan baik begitu memasuki gedung bandar udara. Tidak perlu mengisi kartu imigrasi. Loket imigrasi jumlahnya sangat banyak, apalagi jika dibandingkan dengan bandar udara Soekarno Hatta. Petugas imigrasi tidak berbelit, Toilet yang bersih. 

Di luar bandar udara. Berbekal pengalaman 3 tahun yang lalu, kami lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi supir taksi. Menurut teman-teman di milis Indonesia backpacker, taksi yang direkomendasikan adalah Vinasun dan Mailinh karena menggunakan argometer. Kemudaian harus waspada karena banyak taksi dengan nama yang mirip-mirip, misalnya vina Taxi. Biaya sekitar 150 hingga 200 ribu Dong untuk mencapai Pham Ngu Lao.Dengan informasi-informasi ini, kami segera menolak sopir-sopir yang menawarkan taksinya di luar rambu-rambu di atas. Mata kami terus mencari tulisan Vinasun dan Mailinh di badan taksi-taksi yang diparkir. 

Tiba-tiba ada seorang perempuan dengan pakaian khas Vietnam sedang mengatur penumpang menaiki taksi. Gayanya mirip petugas Blue Bird Taxi di Jakarta.Rupanya dia adalah petugas Saigon Airport Corporation. Kami memilih naik taksi ini setelah mengetahui biaya sampai Pham Ngu Lao 160 ribu Dong. Dich vu Taxi, Tidak ada di dalam daftas taksi yang direkomendasikan teman-teman…hehehe….

Dalam perjalanan, kami tidak merasa asing. Beberapa sepeda dan motor dalam jumlah sangat besar memenuhi bagian depan jalan yang sedang menunggu lampu merah, Mobil-mobil ngebut dan ogah menginjak rem meramaikan jalan-jalan di kota ini, Ada sedikit perbedaan dibanding 3 tahun lalu. Kami melihat banyak perempuan bercelana pendek dan berpotongan rambut sebahu menaiki motor. 3 tahun yang lalu, penampilan perempuan lebih tradisional : berambut panjang diikat seperti buntut kuda dan berpakaian tertutup. 

Di sepanjang jalan banyak kedai-kedai dengan kursi-kursi kecil dan meja makan digelar di depan kedai, berikut tempat sampah yang tersedia di bawah tiap meja. Di beberapa tempat kami jumpai gerobak penjual hamburger ala Vietnam yang menggunakan roti panjang berkulit keras. 

Kami juga melewati Reunification Palace dengan lapangan luas di depannya tempat kami menghabiskan hari terakhir di Vietnam kami 3 tahun yang lalu. Banyak pasangan yang berpelukan di taman.

Sampai di Pham Ngu Lao, kami turun dari taksi. Supir hanya mengembalikan 20 ribu Dong ketika kami membayar 200 ribu Dong. (Menurut argometer, sebetulnya kami hanya harus membayar 120 ribu Dong). Yaahhhh…. ini tidak kami anggap penipuan, karena masih dalam batas wajar. 

Setelah meletakkan barang bawaan di hotel (hotel ini pernah kami pakai juga 3 tahun yang lalu), kami makannnnnn…..PHO!... makanan favorit kami di sini! Lagi-lagi kami terpesona dengan rasanya, Rasa kaldu daging yang bercampur dengan berbagai aroma daun-daunan segar yang dicemplungkan ke dalam kaldu panas. Daun-daunan yang tidak kami tahu namanya. Salah satunya adalah daun seukuran daun kemangi dengan tepi bergerigi, batang daun agak keras berwarna merah coklat dan berbau seperti minyak telon. Mirip daun pakpahan yang biasa dilalap di Indonesia. Kemudian ada lagi daun panjang berbau khas, taoge dan daun bawang. 

Malam ini rasa kangen kami dengan suasana kota Ho Chi Minh City cukup terpuaskan. 

SIAP2 TRAVELING ALA BACKPACKER


Oleh: Rasid Rachman

Beda antara bepergian sendiri dan ikut biro wisata adalah pada persiapannya. Ikut biro wisata, kita ga perlu menyiapkan jadwal perjalanan; tinggal ikut aja kemana biro itu membawa kita sesuai kesepakatan. Kalau pergi sendiri, kita harus memilih tempat2yang hendak kita kunjungi.
Pemilihan itu bukan hanya harus sesuai dengan selera, tetapi hal2 lain juga, semisal waktu, kantong, jarak, transportasi, dsb. Maklum, tidak ada jaminan dapat tiba di lokasi, atau dapat kendaraan penghantar, dapat guide, dsb. Setiap lokasi wisata, terutama yang ”aneh2” memiliki kendalanya sendiri. Misalnya di Flores, kendaraan umum tidak berjalan setiap hari. Syukur2 ada bis setiap hari. Bis Bajawa ke Riung hanya sekali sehari, sehingga banyak makan waktu.
Jadi setiap kali kami bepergian, jauh2 hari kami mempersiapkan segala sesuatu, hingga hal2 kecil dan remeh temeh.
Yang pertama adalah tujuan atau tiket murah – mana yang lebih dulu, kami bingung juga. Kadang2 ada promo tiket murah ke suatu tempat, kami tertarik, lalu buru2 menjadikan destinasi itu sebagai lokasi tujuan wisata. Atau kadang2 kami sudah menentukan tujuan wisata, baru kami cari2 tiket. Yang terakhir ini pasti harga tiket ga bisa kompromi. Waktu ngebet mau ke Komodo, Rinca, dan Flores tahun 2010, mau tidak mau kami dapat tiket agak mahal. Yang enak memang adalah pas ada tiket promo yang sesuai dengan tempat tujuan wisata kami, tetapi tidak jarang.
Tiket dan lokasi sudah di tangan, tinggal waktu kunjungan; berapa lama dan tanggal apa saja. Biasanya, waktu kunjungan bukan hal yang terlalu besar, karena memang sudah standar masa cuti kami 2 pekan. Paling2 memperkirakan kapan Aurima mulai libur atau masuk sekolah. Lalu memperkirakan kapan aktivitas tersibuk di gereja, atau kapan persidangan atau perkuliahan mulai lagi. Untuk ini, walaupun kami anggap ringan, tetapi tokh beberapa kali kelabakan juga.
Selesai tahap pertama. Ini sudah kami selesaikan 7-10 bulan sebelum waktu pelaksanaannya. Maklum, profesi dan kantong saya menuntut persiapan2 dasar ini, karena tidak bisa dadakan.
Tahap berikutnya adalah kala 4–1 pekan sebelumnya. Nah ini butuh konsentrasi karena harus membaca buku2 panduan, semacam lonelyplanet, seluruh negeri tujuan. Maklum, perkunjungan kami ke suatu negeri asing mungkin cuma sekali ini saja, sehingga kami harus tahu dulu objek2 wisata di tempat itu. Setelah tahu, barulah kami memilih dengan banyak pertimbangan. Ya jarak dan waktu tempuh, nilai2 yang menarik di tempat2 tersebut, kendalanya, keamanannya, persiapan kami sendiri, dsb. Misalnya, sekalipun ingin sekali menjelajah di hutan lindung barang 2-3 malam atau mendaki gunung Rinjani, namun harus tahu diri karena persiapan fisik dan perlengkapan kami belum mendukung. Jadilah pilih yang fun2 saja.
Kami juga menjelejah info2 terbaru internet. Ini sangat membantu, supaya kami dapat meminimalkan kendala dan hal2 yang mungkin terlewatkan – sekalipun ini tidak dapat dihindari oleh kami.
Setelah membaca dan memilih, kami buat itinerary-nya. Mulai dari pemberangkatan dari rumah hingga waktu ketibaan di lokasi tujuan. Pendajwalan ini penting supaya kami tidak buang2 waktu, yang ujung2nya buang2 biaya kagak karuan, dan penggunaan waktu yang efektif. Juga supaya kami tidak kehabisan waktu, sehingga ketinggalan pesawat kembali ke rumah. Ini hampir kami alami waktu hari cuti terakhir tahun 2009. Dari Penang kami berencana naik bis paling pagi ke Kualalumpur, supaya bisa langsung naik pesawat balik ke Jakarta pukul 16.00. Sebetulnya tukang tiket sudah menjamin bahwa kami tiba di Kualalumpur sebelum pukul 13.00. Namun sebelum pemberangkatan bis di Penang, tukang tiket yang lain panik sendiri. Dia mengoceh yang membuat kami juga ikut panik: ”Wah, awak terlalu buru2. Bis ini baru tiba di Kualalumpur sekitar pukul 15.00, lantas belum lagi awak harus cari taksi menuju bandara sekitar 1 jam lebih. Terlambatlah awak!” Maka kami pun terpengaruh tidak nyaman selama perjalan di bis, namun memang ga bisa apa2 lagi. Untungnya masih ada sedikit penghiburan, orang tadi mengaku bahwa ia bukan seorang yang biasa bepergian. ”Mana dia tahu banyak tentang waktu perjalanan,” pikir kami. Betul, kami tiba di Kualalumpur pukul 12.30, bisa langsung – sekalipun tetap ketar-ketir – naik bisa menuju bandara. Kami berlari2 di bandara yang besar itu, ketika cek-in, petugasnya masih santai2 dan sangat lancar.
Menulis rencana perjalanan ini juga penting untuk mendapatkan tempat tinggal. Biasanya kami tidak memakai sistem booking, karena lebih bebas. Pengalaman di Hue, kami booking dari Hanoi, justru dapat tempat yang bukan hanya lebih mahal, tetapi juga lebih jauh dari kampung turis. Lokasi atau nama hotel cukup penting, mengingat petugas imigrasi sesekali bertanya tentang tempat tinggal kita.
Beberapa hari menjelang pemberangkatan, kami menyiapkan perlengkapan. Ransel, gunting kuku, korek kuping, perlengkapan selam dan renang, pakaian2 siap buang (kami biasa membuang kaos, celana, handuk, pakaian dalam, celana renang, kaos kaki, dsb. ketika jalan2) setelah digunakan sekali lagi terakhir kali, buku panduan dan bacaan, paspor, tiket, kamera, video, sepatu hiking, obat2an, chargers, duit, dsb. Kalau transit, kami juga menyiapkan makanan dari rumah untuk selagi menunggu. Biasanya perlengkapan2 kami bertiga itu masuk ke dalam satu ransel besar, satu ransel tengahan, dan satu ransel kecil. Ketika pulang, banyak pakaian tidak terbawa lagi karena sudah dibuang; agak ringan.
Memang agak repot, tetapi asyik. Dengan membaca seluruh negeri kunjungan, kami menjadi jadi bagian2 mana yang asyik2 juga, bagian2 mana yang tidak sempat kami kunjungi kali ini. Siapa tahu suatu saat nanti, kami kembali lagi ke sana dan mengunjungi bagian2 lain di negeri itu.

BANTEN LAMA TEMPAT OBJEK KUNO

Oleh: Rasid Rachman

Menggunakan satu hari libur tidak resmi, apalagi di hari Senin, juga bisa menyenangkan. Itulah yang kami lakukan pada suatu Senin September 2010 yang lalu. Kerjaan dan tugas lagi setumpuk, stress yang kagak ketulungan, bosan suasana kota besar yang macet, kangen dengan suasana pedesaan pesisir, dan pas Jo mengajak kami ke Pulau Dua di wilayah Banten Lama, Serang, Banten. Maka berangkatlah kami berdelapan dengan mobil Jo pagi-pagi sekali. Di antara kami, ada yang jago motret, wartawan, jago jalan-jalan, penggembira, dsb. Saya mah jago makan aja deh.
Apa itu Pulau Dua? Kadang-kadang disebut juga Pulau Burung – kami tidak tahu bagaimana asal muasal penamaan tersebut. Jo yang memberitahukan kami – entah bagaimana dia tahu ada pulau itu – dan kemudian mengajak kami.
Sebenarnya pulau itu bukan lagi pulau. Sejak tahun 1980-an, ia tidak lagi terpisah dengan Pulau Jawa. Kini ada endapan panjang dan cukup luas yang menghubungkan “pulau” tersebut dengan Banten Lama. Namun burung di pulau itu masih banyak, karena di dalam pulau itu terdapat hutan lindung yang dijaga dan diolah oleh dua jagawana (Polisi Hutan). Masyarakat juga masih menyebut kawasan itu dengan Pulau Dua atau Pulau Burung. Arahnya, langsung menuju Banten Lama, sebelum Benteng dan Masjid Agung Banten, belok kanan 2-3 km, Tanya-tanya penduduk perihal arah Pulau Dua.

 Endapan  jadian yang menghubungkan ke Pulau Dua (kanan).


Polisi Hutan sedang memberikan info kehidupan hutan lindung (kiri).

Setibanya di sana, mobil diparkir di tepi jalan masuk. Lalu kami berjalan kaki 25-230 menit atau naik ojek menyusuri tambak ikan yang merupakan daratan jadian yang menghubung ke Pulau Dua. Burung-burung mulai beterbangan di sekitar sini. Kostum jelajah dengan siap untuk berbecek ria dan bekal makan-minum yang cukup merupakan perlengkapan kenyamanan plesir kami.

Mirip film perang Vietnam


 Ada dua lokasi yang menjadi objek perkunjungan di Pulau Dua, pantai dengan menara pandang yang memadai serta sejumlah informasi tentang hutan lindung tersebut, dan sangkar burung dengan menara pandang penuh tantangan serta sedikit rawa. Keduanya adalah lokasi yang membuat puas pengunjung yang hobi bertualang dan motret-motret.
Di lokasi pertama, pinggir laut, pengunjung bisa mendapatkan informasi tentang kehidupan hutan lindung, suaka alam, tanaman, dll. Jagawana menjelaskan semuanya. Ada menara pandang, pengunjung padat menikmati aneka burung beterbangan di atas kepala, dan memandang beberapa perahu nelayan.
 Ke lokasi kedua, pengunjung berjalan sedikit ke dalam menyusuri dan menyeberangi rawa-rawa kecil dengan ribuan kepiting rawa. Situasinya, ingat film-film perang Vietnam! Ada juga menara pandang, tetapi “darurat”; diperlukan sedikit keberanian hingga bisa “menclok” di rumah pohon. Jerih lelah dan peningkatan adrenalin ketika memanjat rumah pohon segera terbayar begitu tiba di atas. Pengunjung terpesona dengan puluhan burung hinggap di puncak-puncak pohon. Burung-burung besar kita saksikan dan teropong sendiri di habitatnya.


Lupa turun deh si Jo!



 Memotret, wajib hukumnya!


Dua-tiga jam tidak terasa di sana. Setelah puas menikmati pemandangan di Pulau Dua, perjalanan bisa dilanjutkan ke Masjid Agung, Klenteng, dan Benteng. Masjid Agung dengan menaranya yang besar dan megah mengagumkan. Di kawasan masjid ada museum – sayang tanpa perawatan dan kotor – dan beberapa peninggalan masa lalu, semisal benteng dan meriam. Semuanya terlihat kumuh dengan bejibun-nya pedagang secara tidak teratur – bahkan di bawah rambu larangan berjualan pun tetap ada yang berjualan.

Menara Masjid Agung
 Ribuan peziarah di masjid, manusia di sekitarnya, dagangan yang berderet, jajajan, makanan, dan sejumlah bangunan kuno menjadi godaan tersendiri bagi para pemotret. Ga bisa mengelak deh untuk ga memotret.

Ribuan peziarah setiap hari
 
Jika berjalan sedikit – memang fisik kuat dan bekal makanan-minuman menjadi syarat – melewati perkampungan ke arah Klenteng, ada satu bekas benteng lagi. Rumah ibadah umat Islam dan tempat sembahyang umat Konghucu tersebut sudah lama berdampingan di Banten Lama. Sepi, kosong, luas, dan besar. Tembok benteng setebal 2 meter menambah keangkeran tampang benteng ini. Sayang, objek-objek ini tidak dilengkapi dengan informasi dan pengelolaan yang baik.

Lorong bawah tanah di benteng
Bagaimana pun, ini benar-benar plesiran yang tidak biasa.  ■

Jalan-jalan di kota tua

Melinda

2 hari menjelang Lebaran. Kami sengaja memilih hari itu untuk mengunjungi kota tua Jakarta. Hari itu pasti lalu lintas sangat lancar dan kota tua belum terlalu banyak dikunjungi wisatawan. Yanky ada tugas di gereja, jadi kami (aku, Aurima dan Sian Ing) ikut naik mobil sampai halte busway Kedoya. Kami berangkat dari rumah jam 8 pagi.

Benar-benar pilihan waktu yang tepat! Jalan tol Tangerang – Jakarta agak lengang. Halte bus way sepi. Setelah menunggu sekitar 10 menit, kami menaiki bis Trans Jakarta yang lega. Hanya beberapa penumpang yang berdiri tidak kebagian tempat duduk. Cuma, ada satu yang menyebalkan, di halte Grogol II kami harus berganti bis karena bis kembali ke Lebak Bulus. Padahal rute bis seharusnya berakhir di Harmoni. Di Harmoni, kami mengantre sebentar untuk mendapat bis jurusan kota. Ada 3 bis yang berhenti untuk mengangkut penumpang ke arah kota. Petugas membatasi jumlah penumpang yang naik ke bis sehingga semua mendapat tempat duduk. Alangkah nikmatnya bila setiap hari bis Trans Jakarta seperti ini!

Kami tiba di stasiun kota jam 9. Wisata di kota tua dimulai saat kami memasuki terowongan penyeberangan di bawah Jalan Pintu Besar Utara. Bangunan baru yang selalu menarik bagi kami. Penyeberang jalan akan merasa nyaman menyeberang di sini. Bebas polusi, aman sampai ke seberang, tidak melelahkan. Sangat berbeda dengan jembatan penyeberangan. Klik di sini untuk melihat cerita tentang terowongan ini lebih lengkap. Hari itu ada yang tidak biasa. Tidak ada satupun penjual rujak bebek yang menjadi ciri khas tempat ini. Bulan puasa, kan….

Museum pertama yang kami tuju adalah Museum Bank Mandiri yang terletak tepat di pintu keluar terowongan penyeberangan. Hanya ada satpam yang bertugas di depan. “Seharusnya museum buka jam 9. Tapi petugas loket karcis belum datang. Maklum, mau libur lebaran,” itulah penjelasan yang kami dapat dari satpam. Kami tidak terlalu kecewa, karena beberapa waktu yang lalu kami sudah mengunjunginya saat perhelatan acara Kumkum.
Kami berjalan sedikit ke gedung di sebelahnya, Museum Bank Indonesia. Tampaknya, kami adalah pengunjung pertama. Petugas memberitahu bahwa yang dapat dilihat saat ini hanya pameran mata uang dan logam mulia. Yang lainnya, sedang dalam perbaikan karena ada gangguan instalasi listrik. Berarti kami tidak bisa melihat film animasi hujan mata uang logam yang merupakan produk unggulan museum ini. Sayang. Tapi hal ini tidak mengurangi semangat kami mengelilingi museum ini. Ada banyak hal yang menarik di tempat ini. Mulai dari bangunan tua yang kokoh dengan pintu-pintu ayun dari kayu yang tebal dan berat, dan jendela-jendela kaca patri warna-warni hingga loket-loket kasir dengan terali pemisah yang kokoh antara kasir dan nasabah. Kemudian berbagai jenis mata uang, mulai dari jaman Majapahit, jaman penjajahan hingga uang kertas bersambung seratus ribu-an. Kami baru tahu, ternyata duit adalah sebuah nilai mata uang saat VOC baru berdiri di Indonesia.

Hal yang paling mengejutkan adalah toilet. Letaknya ada di sebelah kiri tangga saat memasuki museum. Melalui sebuah pintu kayu besar, kita akan memasuki area luar museum. Area yang sangat luas berupa bangunan berbentuk persegi panjang dengan halaman luas di tengahnya. Saat itu bagian ini sedang direnovasi. Tembok-tembok yang sudah dicat, dibungkus plastik. Di sana-sini ada tangga dan stagger. Toilet berada di bagian belakang bangunan. Toilet dengan wastafel dan kloset yang modern dan bersih. Rasanya tidak ada toilet museum di Indonesia yang sebagus ini. Mudah-mudahan toilet ini akan terjaga dan terawat terus seperti di hotel-hotel berbintang.

Dari Museum Bank Indonesia, kami berjalan ke arah lapangan di depan Museum Fatahillah. Di sini kami bertemu dengan Tiny sekeluarga dan teman-temannya. Memang kami sudah berjanjian sebelumnya. Kami bersama-sama memasuki Museum Wayang yang terletak di sebelah barat lapangan. Gedung ini pada zaman Belanda merupakan gedung gereja. Ada sebuah gong yang berdiri di depan lorong sebagai penanda tempat memulai wisata wayang bagi pengunjung. Patung Semar berdiri di sebelah kanan. Museum terdiri dari 2 lantai, berisi bermacam-macam wayang dari wayang kulit, wayang golek, wayang potehi, wayang jaman revolusi hingga wayang dari manca negara. Ada yang unik di lantai 2, yaitu gambar bentuk-bentuk kepala, hidung, mulut, dan bagian-bagian tubuh wayang lain beserta penjelasan tentang maknanya. Semuanya ditempel di lantai.

Selesai mengitari Museum Wayang, kami kembali ke lapangan. Ada banyak sepeda warna-warni berjejer di tepi lapangan. Beberapa sepeda digantungi topi zadoel yang biasa diidentikkan dengan pengguna sepeda onthel zaman dulu. Sepeda-sepeda ini disewakan. Salah seorang pemilik sepeda menawarkan wisata sepeda sampai ke Sunda Kelapa dan menunjukkan brosur tempat-tempat tujuan wisata. Setelah melihat-lihat brosur, akhirnya kami putuskan untuk berwisata sendiri dengan menyewa sepeda saja. Kami menyewa 3 buah sepeda untuk 4 orang : aku, Sian Ing dan Aurima yang memboncengkan Axel.

Kami mulai mengayuh ke jalan kecil di barat laut lapangan. Sebelum persimpangan menuju Jalan Kali Besar Timur, ada sebuah bangunan berwarna merah yang disebut-sebut dalam brosur sebagai Toko Merah. Di bagian atas bangunan ini nangkring dahan pohon dengan daun-daunnya. Akar gantungnya menempel pada tembok di bawahnya.

Perjalanan kami teruskan menyusuri Kali Besar. Tujuan selanjutnya adalah Jembatan Kota Intan. Sudah lama aku memendam rasa penasaran untuk mengunjunginya. Jembatan ini dulunya dapat membuka-tutup bila ada kapal yang lewat di bawahnya. Jembatan ini menghubungkan Jalan Kali Besar Barat dan Jalan Kali Besar Timur sebelum berbelok ke Jalan Tiang Bendera. Ada jembatan baru yang dibangun di sebelah utara Jembatan Kota Intan. Begitu tiba, ya ampuuunn….. sebetulnya aku sudah 3 kali melewati daerah ini sebelumnya! Aku melewati daerah ini setiap kali menuju ke Mangga Dua dengan kendaraan umum. Ini adalah tempat aku  berganti angkot tujuan Mangga Dua. Angkot berikutnya menunggu di seberang jembatan. Kalau selama ini aku hanya berjalan mencari angkot, saat ini aku lebih memperhatikan jembatan tua di sebelahnya. Jembatan Kota Intan diberi pagar dan taman. Di bagian bawah ada beberapa lampu sorot warna-warni. Pasti bagus bila dilihat pada malam hari.

Dari Jembatan Kota Intan, mengikuti petunjuk pedagang minuman dekat jembatan, kami mengayuh lagi ke arah utara menujuh Pelabuhan Sunda Kelapa. Kami menyeberangi Jalan Tiang Bendera dan memasuki jalan kecil. Wiiiihhh..... serasa berada di dunia lain. Jauh dari keramaian kota Jakarta. Tampaknya memang tidak ada kendaraan yang berkepentingan melalui jalan ini. Kami melalui kolong jalan tol, kemudian melewati bangunan-bangunan tua yang mirip gudang, sebuah rumah makan yang menggunakan bangunan besar tua berarsitektur Cina dan lagi-lagi bangunan tua yang temboknya ditumbuhi pepohonan.

Kami tiba di bekas Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada Museum Bahari yang memanfaatkan gedung tua bekas gudang penyimpanan rempah-rempah pada zaman VOC dan pernah dipakai sebagai penyimpanan amunisi oleh tentara Jepang. Dari luar, museum terlihat berbentuk panjang dan beratap rendah. Setelah masuk, ternyata museum terdiri dari beberapa bangunan yang berhubungan dan ada halaman di bagian tengahnya. Banyak cat dinding yang terkelupas karena lembab, rangka kayu yang keropos dimakan rayap dan terali jendela yang berkarat. Dengan tiket masuk Rp 2.500,- untuk orang dewasa dan gratis untuk anak-anak, pantaslah kalau gedung ini tidak terawat. Sayang sekali. Di lantai bawah dipajang bermacam-macam perahu yang menunjukkan keperkasaan nenek moyang orang Indonesia yang berjaya di laut. Di lantai dua dipajang kekayaan laut Indonesia yang diawetkan, di antaranya ikan duyung yang berukuran lebih panjang daripada tinggi badan Axel.

Di sebelah selatan museum yang dipisahkan oleh jalan kecil,berdiri menara Syah Bandar yang sudah tidak berfungsi lagi. Bangunan masih kokoh dan tangga-tangga kayunya masih kuat. Dari atas menara, kami dapat menyaksikan kanal yang dipenuhi perahu-perahu. Di sekitarnya banyak bangunan-bangunan rumah penduduk. Kubayangkan dahulu kala, Syah Bandar Sunda Kelapa mengawasi keluar masuknya kapal-kapal pedagang ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Di arah selatan, kami melihat bekas gudang-gudang VOC yang tadi kami lewati sewaktu bersepeda. Masih ada bangunan gudang yang terpelihara di belakang bangunan-bangunan yang kami lewati tadi.

Ini adalah tempat terakhir yang kami kunjungi. Karena waktu sewa sepeda sudah habis, kami harus segera kembali ke lapangan di depan Museum Fatahillah.

Hari sudah siang, tenaga juga sudah mulai berkurang. Perjalanan wisata kota tua kami akhiri di taman ini. Suatu kali nanti kami akan kembali lagi. Masih ada banyak tempat yang belum sempat kami lihat dan masuki, di antaranya gudang VOC yang tadi terlewat, Museum Keramik dan bangunan-bangunan lain di sekitar lapangan serta situs-situs kuno lain.

ORANG FLORES P JALAN LURUS BIKIN B P ISI PERUT TERADUK-ADUK OOOO….

(Melinda)

Tidak ada jalan antar kota di Pulau Flores yang lurus, itulah kesimpulan kami setelah menjelajahi separuh pulau ini. Daratan yang dipenuhi oleh gunung, lembah dan bukit di sepanjang Pulau Flores berperan dalam membentuk jalan-jalan antar kota. Ada ratusan tikungan berbentuk tapal kuda dengan sudut yang lebih tajam dibandingkan tikungan tapal kuda di kawasan Puncak dengan kecuraman jalan yang lebih tajam. Bahkan di beberapa tempat dijumpai beberapa tapal kuda yang saling menyambung. Bayangkan pegalnya pinggang yang menyesuaikan posisi duduk di tempat-tempat demikian!

Beberapa kali kami dihibur oleh orang Flores tentang kondisi jalan. Pertama, menurut Andre, supir mobil sewaan dari Ende ke Bajawa, memang jalan antara Bajawa dan Ruteng berkelok-kelok, namun setelah itu dari Ruteng ke Labuan Bajo jalan lebih lancar karena lurus. Kenyataan yang kami jumpai, jalan lurus yang dimaksud itu berkelok-kelok juga!

Kedua, dalam perjalanan dari Bajawa ke Ruteng, bis yang kami tumpangi berhenti di Aimere. Waktu beristirahat yang bermanfaaat setelah perut dikocok-kocok selama 1 jam di jalan berkelok-kelok. Menurut penjual jeruk yang kutanyai di sana, perjalanan dari Aimere ke Ruteng lurus, tidak seperti dari Bajawa ke Aimere. Setelah kami menjalaninya, kami merasakan hal yang sama saja, berkelok-kelok! Rupanya seperti itulah jalan lurus versi orang Flores.

Bagaimanapun berkelok-keloknya, kondisi jalan di Pulau Flores jauh lebih baik dibanding beberapa belas tahun lalu. Hampir seluruh ruas jalan sudah diaspal, meski ada beberapa bagian yang rusak. Kondisi ini sangat bermanfaat bagi pengelana seperti kami, karena sangat menghemat waktu perjalanan. Dahulu, untuk pindah dari satu kota ke kota lain memerlukan waktu satu hari. Selain disebabkan kondisi jalan yang rusak penuh lubang, juga kendaraan umum yang ada tidak memadai. Bahkan, belum tentu ada kendaraan umum yang berangkat setiap hari.

Separah apapun perut dikocok oleh kelokan-kelokan jalan, selalu ada hadiah berupa pemandangan yang indah di tempat tujuan. Bahkan dalam perjalanan ke Riung, sebelum mencapai Riung kami sudah dapat melihat pemandangan pulau-pulau Taman Laut 17 pulau di balik bukit-bukit yang kami selusuri. Flores memang sangat indah…

Mabuk moke

(Melinda)

Dalam kunjungan ke Desa Adat Bena di Manggarai, di sebuah rumah ada jejeran mangkuk terbuat dari batok kelapa berikut sendoknya. Untuk minum moke, kata Ibu penghuni rumah, kemudan diralatnya sendiri : untuk makan soto. Aku penasaran dengan kata moke yang pertama kali diucapkannya. Si Ibu menjelaskan bahwa moke adalah arak yang terbuat dari air gula yang diambil dari pohon lontar. Aku jadi teringat pemandangan sabana di kiri-kanan jalan masuk SPRG Penfui belasan tahun yang lalu. Di sabana itu ada banyak pohon lontar. Beberapa kali aku melihat orang memasang wadah besar di pohon lontar. Wadah yang berbentuk sasando dan terbuat dari daun lontar. Wadah ini berfungsi untuk menampung air lontar yang manis. Beberapa kali aku minum air lontar yang baru dipanen. Manis dan segar saat diminum siang hari yang panas. Tapi moke...belum pernah. Seingatku, minuman hasil fermentasi air lontar itu disebut sopi di Kupang.

Ketika kutanyakan di mana bisa mendapatkan moke, Si Ibu menunjukkan sebuah warung di seberang rumahnya, bahkan kemudian mengantarkanku. Di bagian dalam warung ada sebuah gentong tanah liat yang berisi moke yang dijual dengan harga Rp. 10.000,- per botol bir. Aku tidak bermaksud membeli sebanyak itu, sekedar memenuhi rasa penasaran. Penjaga warung memberikanku 1 gelas.

Minuman itu berbau tape, berwarna putih. Saat diminum terasa pahit dan sedikit manis. Tidak enak, sebetulnya. Namun aku minum lebih dari setengah gelas, hanya karena merasa sayang untuk membuangnya. Tidak ada reaksi apa-apa. Setelah itu, aku masih bisa menuruni tangga-tangga batu untuk keluar dari Desa Bena menuju mobil.

Sekitar 15 menit setelah mobil berjalan, kepalaku terasa makin lama makin berat. Leherku serasa membawa bongkahan batu sehingga tidak sanggup menyangganya. Kemudian otot-otot di sekitar mata dan mulut terasa menebal, demikian juga ujung-ujung jari. Mata tak mampu melihat jarak jauh.

Sepanjang perjalanan aku memejamkan mata untuk mengurangi rasa pusing. Otakku tetap bekerja. Aku membayangkan bila reaksi moke ini makin lama akan makin parah dan menimbulkan kerusakan organ-organ vitalku. Kubayangkan jantungku terus terpacu dan aku tak sanggup menahannya dan akhirnya aku mati. Atau otakku menjadi rusak dan ingatanku hilang. Karena itu aku minta Aurima mencatat beberapa kata kunci yang muncul di kepalaku untuk mengingatkanku seandainya aku normal kembali nanti.

Satu jam kemudian, ketika kami tiba di Bajawa, kepalaku menjadi ringan dan tubuh terasa melayang. Aku tidak sanggup duduk untuk makan meski makanan sudah dipesan. Karena itu aku minta diantar ke kamar. Ujung-ujung jari dan otot wajah terasa panas dan kesemutan. Perut terasa mual.

Di kamar, aku tidak bisa tidur, tapi rasa pusing perlahan-lahan hilang. Yang tersisa hanya rasa mual. Gejala mabuk berangsur-angsur hilang. Dalam waktu 3 jam setelah minum moke, reaksi tubuhku muncul dan hilang sendiri. Cukup cepat bagiku yang baru pertama kalinya minum minuman keras. Mungkin didukung juga oleh udara Bajawa yang dingin, sehingga sebagian besar terpakai untuk menghangatkan tubuhku.

Seminggu kemudian, aku menyaksikan acara Jejak Petualang di Trans 7 yang menyiarkan kisah perjalanan reporternya ke Desa Bena berikut moke-nya. Diperlihatkan pula, saat moke yang diletakkan di mangkuk batok kelapa dengan mudahnya terbakar. Waaaahhh....

Setiap perjalanan wisata selalu ada yang istimewa. Bagiku, mabuk moke adalah pengalaman teristimewa dalam perjalanan kami di Flores tahun ini. Cukup sekali.

Yang membuatku tak habis pikir hingga saat ini adalah bagaimana orang bisa kecanduan minuman keras. Rasa tidak enak. Efeknya sama sekali tidak membuat diri nyaman. Tidak membuat hati tenang. Tidak menghilangkan beban pikiran, malah sebaliknya, pikiran menjadi kacau. Semuanya bikin kapok!

Ruteng, kota indah di pegunungan dengan 40 susteran

(Melinda)

Kami sama sekali tidak mempunyai rencana untuk singgah di Ruteng dalam perjalanan melintasi Flores. Karena pertimbangan waktu, banyak rencana yang berubah, salah satunya adalah bermalam di Ruteng dalam perjalanan dari Riung menuju Labuan Bajo.

Kami mendapat info dari Andre, supir mobil sewaan dari Ende ke Bajawa, bahwa di Ruteng kami dapat menginap di susteran, tanpa menyebutkan apa nama susterannya. Dari terminal Ruteng, kami menaiki bemo untuk mencari susteran. Kami dibawa memasuki kota Ruteng dan menyaksikan keindahannya. Di mata kami, Ruteng merupakan kota terindah dibanding kota-kota lain yang pernah kami kunjungi di Flores. Terletak di pegunungan, kota Ruteng dipenuhi bangunan-bangunan tua yang kokoh. Ada banyak gereja dan susteran dengan latar belakang bukit-bukit hijau.
 
Menurut salah seorang penumpang bemo, jumlah susteran di Ruteng ada 40. Sayangnya dia tidak mengetahui susteran yang menerima tamu untuk menginap. Syukurlah, supir bemo mengetahuinya meski pada awalnya kami tidak yakin dia telah mengantar kami ke tempat yang tepat. Kami diturunkan di biara Bunda Maria Berduka. Ternyata supir bemo itu benar. Biara itu memang biasa menerima pengelana seperti kami. Menurut salah satu suster, tidak banyak orang Ruteng yang mengetahui bahwa biara ini menyediakan tempat bagi tamu untuk menginap, namun supir-supir mobil sewaan dari luar kota umumnya mengetahuinya.

Biara Bunda Maria Berduka terletak di tepi jalan A. Yani, di bagian timur kota Ruteng. Dari jalan raya, kami harus berjalan sedikit menanjak untuk mencapai bangunan biara. Di sebelah kanan jalan masuk ada taman yang terawat dengan patung salib dan Bunda Maria sedang menangis di sudutnya.

Ada 3 bangunan di biara ini. Bangunan utama terdiri dari 2 lantai, di dalamnya ada ruang ibadah, kamar-kamar biarawati dan kamar-kamar untuk tamu menginap. Bangunan kedua juga terdiri dari 2 lantai, berisi kamar-kamar biarawati dan ruang makan tamu. Bangunan terakhir terletak di bagian belakang dan merupakan bagian paling tinggi. Bangunan ini digunakan sebagai asrama murid-murid SMA dan mahasiswi. Di antara bangunan-bangunan terdapat taman-taman yang indah dan terawat.

Kamar yang disediakan untuk menginap terletak di bagian belakang bangunan utama. Karena kontur tanah yang berbukit, bagian belakang bangunan ini merupakan bangunan berlantai 1 yang menyatu dengan lantai 2 bangunan bagian depan. Bangunan ini terdiri dari beberapa kamar dengan daya tampung bervariasi, mulai dari kamar untuk 1 dan 2 orang dengan tempat tidur terpisah hingga kamar luas dengan 1 buah tempat tidur dobel. Setiap kamar memiliki kamar mandi tersendiri dengan fasilitas air panas. Semua kamar tampak bersih, rapi dengan sirkulasi udara yang baik sehingga nyaman sebagai tempat beristirahat.

Bila kita melihat dari tempat manapun di biara ini ke arah depan, maka akan terlihat kota Ruteng yang terletak di bagian bawah dikelilingi bukit-bukit hijau. Pemandangan yang sangat indah. Rasanya tak bosan-bosannya menatap dan menikmati keindahan panoramanya. Meski tidak sama seperti kota Aigen, tempat keluarga von Trapp, keluarga penyanyi dalam film The Sound of Music, aku membayangkan tempat ini sama indahnya.

Ruteng dan biara Bunda Maria Berduka ...
Tempat yang sejuk, indah dan penuh rasa cinta...