BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (2)

Para peserta prosesi mulai tiba di Larantuka sejak hari Selasa; beberapa di antaranya bahkan telah tiba sejak hari Senin. Namun, umumnya, hari Rabu dan Kamis  siang adalah masa tiba terbanyak para peziarah.Sejak Kamis pagi, sebagian kota Larantuka tertutup bagi kendaraan. Jalan-jalan utama telah siap dengan deretan lilin di atas pagar-pagar bambu. Setelah istirahat sejenak, kami siap-siap berziarah ke situs-situs. Ada banyak situs, dan menurut orang-orang situ, tidak mungkin kita menziarahi semua situs dalam satu kali kunjungan. Padahal, situs-situs itu hanya dibuka beberapa hari menjelang Paska setiap tahun.

Para peziarah di Larantuka umumnya menziarahi beberapa tempat bersejarahyang bertebaran di kota Confreria (para awam yang menjaga tradisi dan devosi Larantuka) yang mengusung Tuan Ana dan Tuan Ma dalam prosesi, ketigabelas suku Semana yang akan mengaji Semana tiap Rabu, koor untuk Kamis dan Jumat, Ma-ma Muji, belum termasuk para petugas kesehatan, keamanan, dan lalu lintas, berjaga dan bekerja nyaris non-stop.
Larantuka dan sekitarnya, dan bahkan hingga menyeberangi pulau. Perziarahan dimulai sejak Rabu hingga Jumat pagi.Penduduk setempat dan orang asing baik rombongan maupun sendiri, para peziarah memulai kegiatannya sejak pagi hari hingga jauh malam. Pukul 5 pagi, kapela Tuan Ana (Yesus) dan kapela Tuan Ma (Bunda Maria) sudah ramai dikunjungi sejak Kamis dan Jumat itu. Sepanjang Kamis malam ada tuguran umat. Kapal-kapal motor tak henti antar-jemput peziaran ke Pulau Adonara. Para petugas gereja, penerima tamu,

Larantuka menjadi sangat ramai dan sibuk, namun semua berjalan dengan tenang dan rileks. Para petugas tetap ramah dan melayani peziarah. Tidak ada orang yang bentak-bentak, berkata-kata kasar, teriakan, tidak ada komplain sekalipun di tengah desakan antre para peziarah yang azubilah. Bahkan sengatan terik sinar matahari kota itu tidak menyurutkan niat peziarah untuk melakukan ritus demi ritus dengan sabar mengantre di pintu-pintu masuk situs.

Dalam berziarah, bukan kecepatan waktu yang dikejar, namun penghayatan mendalam terhadap sebuah situs. Lelah, kesal, jemu, dan haus adalah bagian yang menyatu di dalam perziarahan. Dalam berziarah, kita mengulang dan mengenang perjalanan perjuangan masyarakat yang dilakukan masa lalu pada masa kini.
Prosesi dimulai dengan doa dan paduan suara para perempuan “Ma-ma Muji” dengan menyanyikan lagu-lagu ratapan pada Rabu petang. Lagu-lagu ratapan dinyanyikan menurut puisi Ibrani, yakni secara alfabetis dalam abjad Ibrani: alifbethdalethgimel - dst. Sayang sekali, kami belum tiba di Larantuka Rabu itu. Pada hari Kamis Putih, diadakan ritus Muda Tuan, yakni pemandian patung Bunda Maria Berdukacita bernama Tuan Ma. Setelah dimandikan di kapelnya, Tuan Ma dikenakan pakaian kebesaran jubah ungu, dan umat boleh menjenguknya. Perkunjungan itu hanya dibuka sekali dalam setahun.

Di tempat lain, di kapel Perpetu, diadakan ritus mencium peti Tuan Ana (sebutan untuk Yesus) sebelum diarak bersama patung Tuan Ma. Sementara itu, liturgi Gereja seperti doa-doa harian, tuguran, dan Kamis Putih, serta devosi jalan salib, tetap berjalan selama persiapan prosesi tersebut yang juga berlangsung di Gereja-gereja. Sebuah pengaturan manajerial yang luar biasa karena pengalaman bertahun-tahun.

0 Response to "BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (2)"

Posting Komentar