BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (4)

Jumat senja sekitar pukul 19.00, setelah selesai ibadah Jumat Agung. Masih ada waktu sedikit untuk mempersiapkan diri, mulailah prosesi Jumat Agung. Mulai dari Katedral Larantuka, kemudian mengelilingi sebagian kota Larantuka dengan lilin. Ada sebuah ibadah singkat dengan lamentasi (nyanyian duka dan pengharapan dari Kitab Ratapan menurut puisi Ibrani yang alfabetis) dan doa sebagai pembuka dan penjelasan prosesi di Katedral. Lamentasi juga dinyanyikan tadi Jumat pagi dan kemarin Kamis pagi di Katedral. Di sini juga disebutkan urutan yang terlibat dalam prosesi: confreria, koor, pejabat negara, suku-suku, pejabat gereja – memang prosesi ini adalah hajat semua orang. Juga terlihat umat Islam
membantu kelancaran prosesi sejak dari Katedral. Persiapan prosesi ditutup dengan nyanyian ratapan Veronika tentang sengsara Yesus. Seorang perempuan muda dengan mempertunjukkan gambar wajah Yesus yang penuh luka menyanyikan ratapan Veronika dengan irama melismatis yang syahdu dalam bahasa Latin. Sangat menyayat. Indah pula. Rasanya, setiap kali nyanyian itu selesai dinyanyikan, kita ingin mendengarkannya kembali. “Hai kamu yang melintasi jalan ini, pandang dan lihatlah, apakah kau melihat kesedihan yang sedang aku alami?” kata Veronika.

Pukul 20.00 prosesi Jumat Agung mulai berjalan. Prosesi membawa peti Tuan Ana. Peti diusung oleh para Nikodemus (Lakademu), empat orang, dengan wajah tertutup selubung putih dan merah. Confreria mengiringi di sekitarnya. Ratusan ribu peziarah, berjalan empat-empat di kiri-kanan sisi jalan, ikut di belakang sehingga mengekor beberapa kilometer di belakang. Nyanyian-nyanyian dan zikir salam Maria terus dikumandangkan oleh para peziarah – demikian juga dilakukan oleh puluhan ribu masyarakat di sepanjang jalan prosesi itu. Lilin-lilin menyala di sepanjang perjalanan.

Prosesi berhenti di delapan Armida. Ketika berhenti di Armida, selama 15 – 20 menit, Injil dibacakan,
renungan dan doa disampaikan, dan seorang solis perempuan menyanyikan “Ratapan Putera Manusia” atau nyanyian ratapan Veronika sambil mempertunjukkan lukisan wajah sengsara Yesus. Nyanyian yang menyayat ini mampu menyirap zikir dan nyanyian peziarah di dalam keheningan khidmat. Prosesi malam berakhir di Katedral semula sekitar pukul 01.00. Prosesi selesai. Sebuah perziahan dapat dikatakan telah utuh.

Mengantuk, lelah, panas. Namun perziarahan ini telah memberikan kepuasan dahaga tak terkira. Salah seorang peziarah mengatakan: “Inilah ziarah. Ketika memulainya, lakukan dengan persiapan dan niat yang matang. Ketika menjalaninya, tidak mengeluh ini-itu atau terlalu meluapkan kegembiraan. Ketika mengakhirinya, akhiri hingga selesai.” Ziarah bukan mau enaknya saja, tetapi ada penderitaan, pengorbanan, dan sakit yang ikut mengiringinya.

Sabtu pagi, prosesi belum usai. Masih ada beberapa prosesi dan ritual kecil yang berlangsung hingga Senin pagi. Gereja pun tetap terbuka untuk Sabtu Sunyi. Namun, para peziarah umumnya, setelah dahaganya terpuaskan dari oasis perziarahan orang nagi, mulai kembali ke tempat tinggalnya untuk merayakan Paska pada hari Sabtu malam atau Minggu, atau melakukan aktivitas seseharinya. Para pemuda mengantarkan kembali patung Tuan Ma dan peti Tuan Ana ke kapelnya semula masing-masing. Sepanjang Sabtu pagi itu, kota Larantuka menjadi sepi, tenang, dan sunyi. Hanya ada beberapa petugas yang tetap bekerja. Selain petugas di Gereja dan keamanan, ada juga “ritual” sampingan, yakni para petugas kebersihan mengurusi sampah-sampah yang tercecer di sepanjang jalan prosesi tadi malam.

0 Response to "BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (4)"

Posting Komentar