BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (3)

Kegiatan-kegiatan gereja selama Pekan Suci ini berangsung biasa. Kamis malam tetap diadakan ibadah Kamis Putih, demikian pula Kamis pagi tetap diadakan kegiatan gerejawi, yakni pembaruan janji imamat bagi semua pastor Katolik. Kami tidak ikut Kamis Putih di Katedral malam itu, sekalipun kami tinggal di Katedral. Kami diajak Romo Bernard Kerans ke Stasi (bakal Paroki) sedikit keluar kota, di pedesaan. Ia memimpin ibadah Kamis Putih di gereja yang dikelilingi hutan itu hingga pukul 21 lewat. Gereja kecil, namun penataan ibadahnya inspiratif sekali. Biasanya, yang inspiratif dianggap tidak alkitabiah. Atau, ada juga anggapan bahwa Alkitab tidak memberikan inspirasi bagi drama-drama liturgis. Tetapi di Stasi ini, warga desa tersebut membuat ibadah yang inspiratif dan sekaligus alkitabiah, sehingga ibadah membawa kita lebih memahami kisah malam terakhir Yesus itu sebagaimana kesaksian Alkitab. Para penulis Alkitab adalah memang penulis naskah terbaik bagi ibadah-ibadah gereja.

Setelah Kamis Putih, gereja tetap terbuka untuk tuguran (berjaga semalaman). Pengurus gereja membagi kelompok-kelompok umat untuk berdoa dan bermazmur setiap satu jam dari pukul 22 hingga pukul 18. Semua gereja di Flores bertugur malam itu – juga di katedral tempat kami menginap.

Tuguran (berjaga) sepanjang malam sejak Kamis Putih hingga Jumat dini hari tidak menyurutkan niat dan semangat umat dan para peziarah di Larantuka untuk melakukan devosi jalan salib. Devosi tersebut dilakukan sejak pukul 07.00 dan berlangsung sekitar 100 menit. Nyanyian-nyanyian paduan suara acapella bergaya Flores yang syahdu mengiringi devosi membawa kami di katedral pagi itu semakin mendekatkan pada peristiwa salib dua ribu tahun lalu di Palestina.

Setelah devosi jalan salib hari Jumat pagi, ratusan ribu peziarah berbondong ke pinggir laut dan pelabuhan. Mereka menyambut dan mengiringi Tuan Menino (Bayi Yesus) yang akan dibawa dari kapelanya ke kapela Tuan Ana. Menyusuri laut dengan kapal kayu yang dikayuh, pukul 12.00 Tuan Menino dibawa dalam prosesi laut dengan perarakan yang sangat besar. Para peziarah mengikuti dari belakang. Laut dipenuhi puluhan, mungkin ratusan, kapal besar dan kecil dengan ratusan ribu peziarah. Sepanjang bibir pantai sepanjang sekitar 2 km juga dipenuhi ratusan ribu peziarah darat. Semuanya berjalan dengan khidmat. Selama sekitar 2 jam itu, kami menyaksikan dan ikut serta dalam sebuah “pesta laut” yang luar biasa. Ziarah laut selesai setelah Tuan Menino ditakhtakan di kapela Tuan Ana. Warga dapat menziarahinya hingga hari Sabtu.

Perarakan peti Tuan Ana dan patung Tuan Ma dilakukan sejak pukul 14.30 pada hari Jumat Agung.
Perarakan dimulai dari kapela Tuan Ana dan kapela Tuan Ma yang saling berdekatan itu diiringi dengan paduan suara Ma-ma Muji menuju Gereja Katedral Larantuka. Begitu Tuan Ana dan Tuan Ma memasuki katedral, kebaktian Jumat Agung dimulai. Di Katedral berlangsung pada pukul 15.00 hingga sekitar pukul 17.30.

Seselesai ibadah umat melakukan ziarah kubur keluarganya masing-masing untuk menyalakan lilin. Makam    menjadi   sangat   banyak   pengunjung  dan pusara-pusara terang benderang dengan nyala lilin. Anggota-anggota keluarga reuni di sekitar pusara. Dalam keyakinan akan kebangkitan orang mati, Paska dihayati sebagai perayaan bersama orang hidup dan orang yang telah meninggal.

0 Response to "BERPROSESI JUMAT AGUNG BERSAMA ORANG NAGI DI LARANTUKA (3)"

Posting Komentar