Singapura - Sarawak 10 tahun yang lalu : oleh-oleh dan check point


Waktu pulang dari Ba Lai setiap anggota rombongan kami diberikan tas dari rotan khas Kalimantan sebagai oleh-oleh. Aku mendapat 3 tas dengan ukuran berbeda. Selain itu aku juga mendapat gelang dari rotan dengan ukiran.

Dari Sepatai, kami semua mendapat tikar 2,5 X 1,5 m terbuat dari rotan. Meskipun bisa digulung, tetap saja repot membawanya. Ada cerita khusus tentang tikar ini. Menurut mereka, mereka biasa menjual tikar ini seharga RM50. Mereka mengantar kami pulang melalui jalan-jalan setapak dan sungai kering yang ditempuh dari pagi hingga sore hari. Tikar-tikar ini dibawakan oleh mereka. Melihat usaha mereka, Joseph bilang sampai di Long San harganya naik jadi RM100. Dari Long San sampai Jakarta, tikar harus kami bawa sendiri. Selama di Malaysia, mulai dari Miri hingga Johor Bahru, tikar ini tidak perlu ditenteng-tenteng karena perjalanan ditempuh dengan  mobil dan pesawat. Kerepotan muncul saat melewati keimigrasian di Johor Bahru.

Dari Johor Bahru ke Singapura kami  naik bis. Di perbatasan, kita semua mesti turun dengan semua bawaan. Untuk mencapai kantor imigrasi, kami harus naik eskalator. Tidak ada gerobak dorong, tidak ada kuli. Semua harus dikerjakan sendiri dan harus cepat, karena bis tidak terlalu lama juga menunggu kami. Bayangkan, kami berempat masing-masing  dengan 2 hingga 3 "tentengan", belum termasuk 1 gulung tikar milik Joseph dan 1 gulungan besar yang teridiri atas 3 tikar milik orang-orang Indonesia yang dijadikan satu. Joseph tidak kuat berjalan, apalagi dengan membawa banyak barang. Tidak mungkin seluruh bawaan kami terangkut dengan sekali naik escalator. Jadi yang cukup “perkasa” (termasuk diriku!) harus turun naik supaya seluruh bawaan terbawa.

Pokonya seru banget deh! Sebetulnya saat itu merupakan jam tidur kami, jam 11 malam. Tapi karena harus olah raga, kami jadi segar. Tidak salah bukan kalau tikar itu sekarang harganya RM200. Ditambah ongkos perjalanan ke Jakarta, bisa RM300. Bener-bener jadi oleh-oleh yang mahal dan berkesan.

Soal oleh-oleh lagi. Oleh-oleh khas Sarawak adalah lada. Banyak makanan olahan yang terbuat dari lada, mulai dari permen lada, biskuit lada / sagu-lada, acar lada yang masih hijau, saus lada sampai parfum lada.

Melinda

0 Response to "Singapura - Sarawak 10 tahun yang lalu : oleh-oleh dan check point"

Posting Komentar