DUA HARI SATU MALAM DI PNOM PENH


Melinda

Kami tiba di kota Pnom Penh pada sekitar jam 2 siang saat matahari sedang terik-teriknya. Udara panas dan berdebu. Kami meletakkan ransel-ransel kami di Grand Vieuw Guest House yang terletak di pinggir danau. 

Kemudian dengan tuk-tuk kami pergi ke Cheung Ek yang letaknya di luar kota Pnom Penh. Perjalanan melewati  jalan-jalan di kota Pnom Penh yang hiruk pikuk, padat namun tidak sampai macet.Setelah 45 menit perjalanan, kami tiba di Cheung Ek, ladang pembantaian rakyat Khmer pada jaman Pol Pot itu. Ke sinilah para tahanan di S21 (di dalam kota Pnom Penh) pada tahun 70-an dibawa dan dibunuh dengan cara yang kejam.

Di depan ada sebuah stupa besar yang berisi rak-rak berisi tengkorak-tengkorak dan pakaian-pakaian para tahanan yang dibantai. Di belakang stupa terbentang lapangan luas dengan lubang-lubang besar bekas galian kuburan massal. Di antaranya adalah sebuah kuburan massal jenazah-jenazah  tanpa kepala. Lalu ada sebuah pohon besar tempat bayi-bayi dibenturkan untuk membunuhnya. Di tempat lain ada sebuah pohon tempat menggantungkan sebuah loud speaker yang saat pembantaian mengeluarkan bunyi-bunyian untuk menutupi suara erangan tahanan yang dibantai. 

Ada suara teriakan sekelompok anak sekolah di kejauhan membuat suasana tempat ini semakin mencekam. Suasananya tidak jauh berbeda dengan suasana saat aku mengunjungi Lubang Buaya sekitar 35 tahun yang lalu.

Hari sudah sore ketika kami tiba kembali di Pnom Penh. Kami mengakhiri hari ini dengan berjalan di sekitar penginapan sambil mencari makan malam. Kami menjumpai beberapa hotel dan rumah makan yang nampaknya milik orang Indonesia, misalnya Arifin guest house, Leni restaurant.

Hari berikutnya, dengan tuk-tuk yang sama dengan kemarin kami mengunjungi S21, Central Market dan Royal Palace.

S21 adalah bangunan bekas SMA yang digunakan oleh pemerintah Pol Pot untuk penjara. Ruang-ruang kelas diberi sekat-sekat dari kayu maupun dari batu-bata untuk membetuk sel-sel yang sangat sempit. Ruang-ruang kelas yang lain dipakai untuk mengumpulkan tahanan dengan cara mengikatnya di tiang besi. Masih ada kawat-kawat berduri yang dipasang untuk menutupi gedung. Tempat ini sama mencekamnya dengan killing field yang kami kunjungi kemarin.

Dari S21, kami menuju Central Market. Melihat kehidupan pasar lokal hamplir selalu kami lakukan dalam setiap kunjungan wisata kami. Central Market merupakan pasar modern bila menggunakan istilah di Jakarta. Pasar dengan bangunan modern, bersih dan menjual segala macam. Yang paling menarik di sini adalah jajanan pasar. Kami membeli beberapa kue yang dibungkus daun : ketan yang dipadu dengan nangka yang dibungkus mirip lontong berukuran 5 x 1 cm, bacang ketan dengan isi daging babi, bacang ketan dengan isi kacang ijo, kue dari tepung ketan dicampur gula merah  dengan kacang ijo di bagian tengahnya seperti kue ku tapi dibungkus daun. Masih ada banyak lagi kue-kue khas Kamboja, seperti aneka bubur manis, gorengan dari adonan tepung ketan dan jajanan pasar lain dalam ukuran kecil. Kalau menuruti mata rasanya ingin mencoba semuanya, tapi perut sudah tidak bisa kompromi. 

Dari pasar, kami menuju Royal Palace yang mirip di Bangkok, tapi berukuran lebih kecil. Royal Palace terletak di tepi sungai. Di depannya ada sebuah lapangan dengan banyak burung merpati berterbangan. Kalau mau jujur, sebetulnya kunjungan ke Istana Negara di Jakarta dan ke Keraton Yogyakarta lebih berkesan bagiku. 

Sebelum bis yang membawa kami ke Siem Reap, kami masih sempat mengunjungi Wat Pnom, sebuah taman kota yang merupakan tempat tertinggi di kota Pnom Penh. Di puncaknya terdapat pagoda. Tidak terlalu menarik karena tempat ini agak kumuh. Ada beberapa gelandangan yang berdiam di tempat ini.

Rasanya memang cukup 2 hari 1 malam untuk berada di kota ini karena memang tidak banyak yang menarik selain killing field dan penjara S21.

0 Response to "DUA HARI SATU MALAM DI PNOM PENH"

Posting Komentar