Terowongan penyeberangan bawah tanah

Bangunan yang terletak dibawah tanah umumnya mempunyai suasana gelap, lembab, pengap dan seringkali dipenuhi asap knalpot. Namun ada satu lokasi bawah tanah di Jakarta yang mempunyai suasana berbeda, yaitu terowongan penyeberangan antara Stasiun Kereta Api dan Museum Bank Mandiri di Kota.

Pada hari Minggu yang lalu, aku dan Aurima mempunyai kesempatan untuk berjalan-jalan ke daerah Kota untuk mengikuti acara Kum kum yang diselenggarakan di Museum Bank Mandiri. Dari gereja, kami menggunakan bus Trans Jakarta dengan transit di Harmoni dan berhenti tepat di depan Museum Bank Mandiri. Melihat suasana Kota yang semrawut, lalu lintas yang cukup padat (meskipun hari libur!) dan tempat parkir yang jauh, kami bersyukur telah memilih bus Trans Jakarta sebagai alat transportasi.

Halte bus Trans Jakarta berada di tengah-tengah Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Stasiun Kota yang sejajar. Kedua jalan sejajar ini membentuk persimpangan lima dengan Jalan Pintu Besar Selatan, jalan fly over Pasar Pagi dan Jalan Mangga Dua. Persimpangan yang selalu ramai. Karena itu keberadaan terowongan penyeberangan bawah tanah yang menghubungkan tepi jalan Pintu Besar Utara dan tepi Jalan Stasiun Kota sangat bermanfaat. Bermanfaat bagi pejalan kaki dan mengurangi kemacetan lalu lintas.

Terowongan ini belum lama dibangun. Aku masih ingat kesulitan beberapa tahun silam saat menyeberangi kedua jalan ini. Lalu lintas sangat ramai, udara panas, penuh asap, sangat tidak nyaman dan perlu waktu cukup lama untuk menyeberangi kedua jalan ini.

Sangat berbeda situasinya saat ini. Begitu turun dari bus Trans Jakarta, ada jalan terbuat dari beton menuju tangga menurun ke bangunan berbentuk seperti stadion olah raga di bawah. Tangga berbentuk melingkar mengikuti bentuk bangunan ini.

Bangunan berbentuk stadion olah raga ini merupakan area terbuka. Kalau di stadion olah raga, bagian tengah berupa lapangan sepak bola berumput, bagian tengah stadion ini berupa kolam kering dengan air mancur yang tidak berfungsi ( entah rusak atau belum difungsikan). Lintasan lari digantikan taman kecil yang diisi oleh rumput, bangku dari semen dan lintasan bagi pejalan kaki. Seandainya air mancur berfungsi, duduk beristirahat di sana akan semakin terasa nyaman.

Karena bentuknya yang melebar ke atas, pemandangan langit dari bawah seolah-olah seperti kubah transparan yang menaungi bangunan. Kubah transparan ini membuat ruang bawah tanah ini menjadi terang. Udara terasa segar karena sirkulasi yang baik. Bentuk bangunan seakan meredam kebisingan lalu lintas yang berada di atas. Dan yang paling menyenangkan adalah udara yang ada di dalam bangunan seakan sudah tersaring dari asap knalpot, entah bagaimana caranya.

Bangunan terbuka ini menghubungkan 2 terowongan yang berada di bawah Jalan Pintu Besar Selatan dan Jalan Stasiun Kota. Saat kami berada di sana, tidak dijumpai pedagang, gelandangan, pengemis maupun preman di stadion dan di terowongan. Pedagang baru dijumpai di ujung terowongan, itupun tidak menghalangi pejalan kaki. Salah satu pedagang yang menarik hati kami adalah pedagang rujak bebek dengan bebekan unik dari kayu yang dilukis dengan cat warna-warni.

Sangat berbeda dengan jembatan-jembatan penyeberangan sibuk lainnya yang selalu dipenuhi oleh orang-orang ini. Menyeberangi jalan di terowongan dan stadion ini menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tidak melelahkan. Seandainya jembatan-jembatan penyeberangan lain diganti dengan terowongan-terowongan seperti ini….

Melinda

Pantai selatan Yogya bukan hanya Parang Tritis


Bagi orang yang tinggal di luar Yogyakarta, Pantai Parangtritis boleh jadi bukanlah nama yang asing. Selain mudah dicapai dari kota Yogyakarta, pantai ini banyak dipublikasikan di media tulis, cetak maupun internet. Coba saja cari Pantai Parangtritis melalui Google Maps. Tidak ada pilihan lain, hanya ada 1 tempat di planet bumi ini yang bernama Parangtritis. Umumnya orang mengenal pantai yang letaknya di bagian selatan propinsi DIY ini sebagai pantai dengan bukit-bukit pasir yang indah.
Sesungguhnya propinsi DIY memiliki garis pantai yang sangat panjang dan Parangtritis hanyalah sepenggal di antaranya. Ada beberapa pantai di propinsi DIY yang tidak kalah indahnya. Di antaranya adalah Pantai Baron, Pantai Kukup, dan Pantai Krakal. Tertarik pada kesaksian beberapa teman yang pernah ke sana, aku menjadikan wisata ke pantai Baron dan Kukup sebagai tujuan pertama dalam libur tengah semester sekolah Aurima tahun ini.




 

Kami bertiga (aku, Aurima dan Febe, sepupunya) tiba di bandara Adi Sucipto pukul 7 pagi. Di bandara kami dijemput Pak Tomo yang telah kupesan sehari sebelumnya, dengan mobil Xenianya. Begitu urusan bagasi selesai, kami langsung melaju ke arah timur. Perjalanan dengan mobil untuk mencapai ketiga pantai ini dari kota Yogyakarta memakan waktu sekitar satu setengah jam. Perjalanan dimulai dengan perjalanan ke arah timur menuju kota Wonosari, kemudian ke arah selatan melintasi pegunungan Kidul. Pantai ini berada di balik pegunungan, sehingga tidak semua jaringan telepon seluler dapat menjangkaunya.


Kedua pantai ini letaknya berdekatan, hanya dibatasi oleh bukit karang. Pantai Baron merupakan pantai yang letaknya paling barat. Begitu keluar dari mobil yang diparkir 300 meter dari pantai, suara gemuruh ombak Samudera Hindia menyambut kami. Suasana pantai masih sepi, tidak ada warung yang buka. Ada belasan kapal nelayan yang sedang berlabuh di pantai. Pantai nampak bersih, tidak ada sampah.


 Seperti Pantai Parangtritis, Pantai Baron merupakan pantai yang landai . Pantai ini  diapit oleh 2 bukit karang di kiri dan kanannya. Beberapa anak muda bersalto di lepas pantai menyambut ombak yang datang. Satu lagi permainan dengan air laut kujumpai. Dinamisnya gerakan air laut memang mendorong terciptanya banyak permainan yang tidak pernah membosankan.

Di sebelah barat, ada teluk kecil tempat air laut menjorok masuk. Di teluk ini air laut terlihat tenang, kontras dengan ombak besar yang setiap kali memecah bukit karang di depannya. Teluk ini memberikan pemandangan yang indah jika dilihat dari puncak bukit karang di sebelah timur. Ada undak-undakan yang terbuat dari kayu dengan pegangan yang kurang stabil untuk mencapat puncak bukit karang ini. Perlu kehati-hatian agar tidak tergelincir saat meniti undak-undakan ini. Imbalannya adalah kepuasan melihat panorama indah seluruh Pantai Baron, mulai dari bukit karang, teluk, deretan kapal nelayan yang berlabuh hingga bentangan pasir dan pecahnya ombak saat mencapai bukit karang. Rasanya tidak bosan-bosan menikmati pemandangan ini, hingga tidak terasa satu setengah jam berlalu.


Pantai Kukup terletak di sebelah timur Pantai Baron, namun tidak dapat dicapai dengan menyusuri pantai, karena ada bukit karang yang membatasinya. Untuk mencapainya, perlu berjalan sedikit memutar ke arah darat mengelilingi bukit karang. Bila dilihat dari    Pantai Kukup, bukit karang pembatas ini berbentuk seperti belahan kulit telur yang menggantung.                     
Sementara di sebelah timur,
ada pulau karang dengan gardu pandang. Pulau karang ini dihubungkan dengan pantai melalui sebuah jembatan. Masih ada beberapa pulau karang di sepanjang perairan pantai Kukup. Semuanya memberikan pemandangan yang indah, terutama saat ombak memecah karang.Peristiwa yang nyaris tidak pernah berhenti,


Sama seperti di Pantai Baron, siang itu Pantai Kukup sepi. Ada beberapa warung yang buka, di antaranya menjual rempeyek rumput laut. Rumput laut memang banyak dijumpai di perairan pantai ini. Ada juga beberapa orang yang menjual ikan-ikan laut yang berasal dari perairan Pantai Kukup. Ikan-ikan berwarna-warni yang biasa dijumpai di antara karang-karang laut. Di sekitar penjual ada beberapa ekor ikan yang mati tergeletak di tanah. Sayang, seharusnya mereka dibiarkan hidup di habitatnya. Belum tentu ikan-ikan itu akan bertahan hidup lama bila dimasukkan ke dalam aquarium.


Pantai Baron dan Kukup memang indah dan masih bersih. Mudah-mudahan keindahan dan kebersihannya dapat terus bertahan bila nantinya seramai Pantai Parang Tritis.

PETAK SEMBILAN AT EARLY MORNING

Have you ever been visited Petak Sembilan and walked around? I am sure you have ever done that – perhaps more than once. But, have you ever been tour around that area during early day? If you have done that, what have you gotten? I have been there at the time local people begin to work in the morning.After a morning prayer, some our churchmen and I went to Glodok area. It was Tuesday on March 30th, before 6 a.m. After spend about 20 minute in the car, we arrived at Petak Sembilan – one of the famous place in town in Old City of West Jakarta. It still 06.20 a.m.

 

Activities in Petak Sembilan
Actually Petak Sembilan (means nine squares), name of one small street, is not only traditional market, but also residence. Located in one corner of Glodok area, West Jakarta, Residence and traditional market are altogether on that place. According to some sources, that area was built at 19th century. One or two habitant began sell some daily needs at front of their houses. Now, almost every doors at Petak Sembilan become shop. That area even developed to other streets around and had become a huge traditional-home market now. There are Pasar Pagi (morning market), Gloria, Kali Mati (dead canal), etc. In this modern world, Petak Sembilan still shows its oldies and unique style.
Besides shopping, you also can try some foods or unique foods. Glodok is well know of unique foods, such as pie oh (turtle soup), porridge, roasted duck, roasted pork, fried meat ball, green noodle, etc. They are all delicious. In short, you can make yourselves convenient with food, especially for food hunters.

Pie Oh soup

It is significantly difference atmosphere between day and early in Petak Sembilan. You don’t need to jostle each other in the morning – there is not crowded yet. You can comfortably window shopping or just slowly walking around. You easily find fresh fruits, vegetables, foods, cookies, sweets, fishes, frogs, etc. So you can buy your daily needs, eat some foods, or drink tea or coffee there. The Petak Sembilan is still interesting place to go, especially in the morning.



After 8 a.m., that environment changes. Either locals or buyers make this area busy and crowded, but show that the economical sector is running well. Some home industries have been becoming distributors for several years, such as office equipment, plastics, ingredients, tools, and even cookies. One cookies home industry that we visited makes thousands cookies of many kind of cookies every day; sellers come and buy there.
Above all, Petak Sembilan still give one big problem remain – that is waste. That area also produces a hilly waste every day. The wrong point of view of our people that waste a waste, or change waste to be a new waste, the behavior to throw a waste to canal around, cause a new problem for Jakarta city. Many new diseases, flood during and after rain, smell surround are the home work that we must do as soon as possible.

COBAIN NASI JAGUNG? MANTA . . . AF

Asyiknya kalau bertugas atau pelayanan ke luar kota adalah sekalian memburu makanan langka dan khas. Pekan lalu, Senin 23 – Selasa 24 Maret 2010, saya mendampingi Tim Betlehem (ini semacam pokja GKI Surya Utama yang tugasnya menyalurkan bantuan sosial gerejawi ke daerah-daerah) mengunjungi GKJ Ngadirejo Papantan Jamus. Kami semua berempat, naik mobil gereja, nyopir bergantian, via Pantura, lama sekali perjalanan sekitar 12 jam.
Setiba di kota kecamatan Ngadirejo, 20 km dari Temanggung, kami disuguhi kopi, kue2 basah, dan makan malam. Ada ikan goreng, sayur, pokoknya seru. Makan sambil bercerita dan kongkow2 tentang kondisi desa Jamus, yang penghasilan utama masyarakatnya berasal dari pertanian tembakau, akhir menyerempet ke soal kuliner. Dari makanan “seadanya”, sampai menyinggung juga soal nasi jagung.
Penasaran tentang apa itu nasi jagung, maklum orang kota, tuan rumah menghidangkan kami nasi jagung. Jadi sebelum kami kembali ke Jakart, Selasa pagi itu kami sudah dua kali sarapan. Sarapan pertama makan nasi biasa, sarapan kedua – selang 2 jam kemudian – nasi jagung dengan bumbu sambel-kelapa.
Pengalaman menarik dan unik. Nasi jagung yang langka dapat kami nikmati di tengah kelelahan perjalanan. Sambutan tuan rumah, Pdt Adi dan istri, yang tulus, menjadi kesan yang mendalam bagi kami. (Rasid Rachman)

Trinity, The Naked Traveler

Posting ini tertinggal sewaktu bedol blogku ke blog ini beberapa waktu yang lalu. Jadi ditulis ulang. Ditulis pada 22 Januari 2009


Buku ini kutemukan menyempil di antara buku roman dewasa di TB Gramedia Summarecon Mal Serpong. Mungkin ada calon pembeli yang batal membeli dan meletakkannya secara asal di rak. Buku itu sudah tidak ada kemasannya, dan sampul depannya sudah agak lecek. Tertarik pada judulnya, aku segera membuka dan membaca sepintas. Kelihatan menarik, karena itu aku membelinya.

Dalam beberapa hari, buku ini selesai kubaca. Ada beberapa perasaan yang muncul setelah membaca buku ini. Pertama aku merasa sangat menyesal membeli buku ini! Menyesal, karena buku ini membuatku ingin cuti lagi, ingin traveling lagi. Padahal baru sebulan yang lalu aku mengambil cuti. Begitu pandainya Trinity mengungkapkan peristiwa dan perasaan yang dialaminya selama traveling, sehingga menggodaku untuk mengalaminya juga.

Kedua, aku merasa iri pada Trinity. Dia sudah mengunjungi semua provinsi di Indonesia dan 33 negara! Dia punya keberanian untuk berkelana mungkin sejak masih mahasiswa atau bahkan sebelumnya, sehingga setiap kesempatan yang ada akan digunakan untuk berkelana. Dari segi "U", mungkin dia lebih muda sedikit dibandingkan diriku. Tapi dia memasuki dunia traveling jauh sebelum aku memulainya karena itu keberaniannya terus terasah.

Ketiga, aku merasa kagum dengan kenekadannya. Keberaniannya untuk melakukan langkah pertama dalam setiap petualangannya telah membawanya ke dunia yang sangat menarik dan membuatnya menikmati langkah-langkah selanjutnya.

Keempat, selama aku membaca buku ini berkali-kali aku tak bisa menahan tawa dan beberapa kali terpaksa menahan tawa yang mau tumpah gara-gara si Dudi ada di ruangan yang sama (bisa-bisa aku digiring ke RSJ Grogol sama dia....) Cara bertutur Trinity di buku ini memang apa adanya, jadi ungkapan-ungkapan yang tercetus seringkali membuatku tertawa terbahak-bahak.

Kelima, keenam, ketujuh.... tak terungkapkan dalam kata-kata. Bukumu memang keren, Trinity! Barusan kulihat di blog-mu, ternyata baru beberapa hari yang lalu kamu jalan-jalan ke Labuan Bajo - Pulau Komodo ya.... wah...kapan giliranku ya?

Melinda

LAKSA CIBINONG ASLI

Rasanya, semua laksa Cibinong asli. Namun tidak semua klaim laksa Cibinong asli berasa “asli”. Hal tersebut baru terbukti apabila kita menikmati laksa Cibinong (kembali) di tempat aslinya.
Sejak dibangunnya jalan TOL Jagorawi, tahun 1977 Jakarta-Cibinong, kemudian 2 tahun kemudian Jakarta-Bogor – jalur Cibinong tidak lagi sering dilewati oleh orang-orang yang bepergian ke Bogor, Sukabumi, atau Bandung. Demikian dengan saya. Jalur tersebut semakin asing. Otomatis, makanan khas Cibinong, laksa ayam, juga menjadi asing. Saya bayangkan, mereka yang lahir atau baru menjadi warga Jakarta setelah tahun 1977, dan tidak pernah tahu adanya laksa di Cibinong, tidak mengenal sama sekali laksa tersebut, kecuali menikmatinya di tempat-tempat “alternatif”.
Memang untungnya, beberapa tempat membuka kedai laksa Cibinong dengan embel-embel “asli” di plang namanya. Sesekali untuk mengobati rindu laksa, kedai-kedai yang terdapat di rest area TOL Jagorawi, atau di Jakarta, dan Bogor, bisa menjadi alternatif. Seiring perjalanan waktu yang semakin lama tidak mampir dan makan langsung di tempat lama, tanpa terasa rasa laksa di Cibinong terhilang di dalam syaraf selera (= mungkin ada ya?) di lidah. Yang kini ada adalah, makan laksa di mana pun di luar Cibinong, sama saja rasanya.
Tadi siang, setelah menghadiri permberkatan nikah rekan di Gereja Kristus Cibinong, para Guru Sekolah Minggu GKI Surya Utama mampir di rumah makan laksa. Tempatnya masih di tempat lama, yakni jalan raya Bogor, pas di pertigaan Cibinong di ujung terdepan fly over Cibinong dari arah Bogor. Rumah makan itu tetap menyajikan menu lama, semisal sotomi babat, asinan, dsb.
Pada waktu makan, barulah rasa khas dan asli laksa Cibinong muncul kembali menyentuh syaraf selera lidah yang lama terhapus. Bihun dengan kuah kuning yang dicampur dengan irisan ayam dan telur rebus, dibubuhi kembang kemangi dan bawang goreng serta dapat dimakan dengan ketupat langsung saya santap begitu tiba di meja. Tidak terlalu manis, hangat, kuahnya tidak encer tidak kental, dengan porsi sedang, dan pokoknya siiip...lah. Kalau sudah duduk dan makan begini, rasa penat dan bosan karena kemacetan Cibinong yang luar biasa dapat dimaklumi. ° (Rasid Rachman)

KE MAKAM DAN TANAH KAKEK

Sekonyong-konyong pagi itu di Bogor, kami bertiga berkeinginan melihat Ciluar, sekitar 5 kilometer dari kota Bogor ke Utara, arah ke Jakarta lewat jalan raya Bogor. Jalan tersebut sangat familiar bagi kami sebelum dibangunnya jalan TOL Jagorawi. Setelah ada jalan TOL, beberapa kali saya sempat melintasi jalan raya Bogor dengan mengendarai motor. Itu sekitar tahun 1982-1984, waktu SMA. Sejak itu, jalan raya Bogor menjadi jalan asing bagi saya – sesekali pernah juga melintasnya sepotong-sepotong. Minggu kemarin itu, dari Bogor, menempuh jalan TOL Jagorawi dan sambung TOL lingkar luar Sentul-Bogor, kami masuk jalan raya Bogor menuju Ciluar. Maka mulailah acara jalan-jalan kami di hari terakhir cuti ini.
Saya hanya ingat dua jalan masuk – memang sejak dulu hanya ada itu. Jalan masuk pertama adalah dari Kedunghalang, patokannya Pabrik Tapioka, terus ke kiri menuju Perumahan TNI. Turun di situ, lantas masuk jalan setapak. Jalan itu adalah jalan masuk jika kami memakamkan keluarga dari Jakarta. Terakhir saya ke situ pada tahun 1983, ketika memakamkan nenek kami.

Saya mencoba jalan tersebut lebih dahulu. Namun bentuk jalan dan posisi bangunan yang banyak berubah, disertai dengan daya ingat yang agak menurun setelah hampir 28 tahun tidak ke sana, membuat saya keder juga. Berhenti di tempat perkiraan, tanya kiri-kanan di mulut jalan setapak, betul kata penduduk: “Jalan ini menuju kebun singkong yang ada beberapa makam di dalamnya.” Tetapi jalan terbaik adalah dari Ciluar, lewat Yayasan Dharmais. Itu adalah jalan yang paling sering saya lewati zaman dahulu kala.
Jalan itu adalah jalan keluarga kami. Sejak rumah pertama di mulut gang adalah rumah Saudara2 sepupu ibu saya. Ada 3 rumah berderet (itu rumah lama, kini sudah ada “sisipan” beberapa rumah baru), semuanya adalah sepupu ibu. Kami masuk ke jalan itu, terus masuk melewati bekas pabik karet, bekas kebun karet yang sudah menjadi fasilitas sosial. Rumah-rumah baru sudah banyak berdiri, sehingga kini lebih mirip kampung ketimbang udik – kata orangtua zaman dulu.
Jalan makin sempit, namun beraspal halus. Terakhir saya ke sana, hanya ada jalan berbatu kali yang tajam-tajam. Kami stop ketika ada jembatan kecil di depan kami. Bukan ukuran jembatan yang membuat saya kuatir tidak bisa melewati jembatan dengan mobil, melainkan kekuatan jembatan tersebut. Mobil saya parkir di depan jembatan, kemudian kami melanjutkan perjalanan.
Tanya sana-sini. “Saya mencari kebun singkong yang ada makam Babah Gemuk” – begitu julukan kakek waktu itu. Ia meninggal tahun 1976, pada usia 86 tahun.
Perjalanannya sendiri mengasyikkan. Sudah lama tidak berjalan di pedesaan, mengingatkan masa kemping dahulu. Bagi Aurima, ini juga berkesan karena jalan tidak dijumpainya di tempat tinggalnya. Udara bersih. Masih banyak pepohonan. Tidak dingin, tetapi segar. Penduduknya tetap ramah sekalipun sudah banyak pendatang di tempat itu.
Kurang lebih 40 menit berjalan dan tanya-tanya penduduk, akhir tiba juga kami di dekat makam dan tanah kakek. Areal tanah seluas 4000-5000 meter² – saya tidak tahu secara pasti – konon dibeli kakek hanya karena petuah ayahnya: buyut eyang saya. “Tanah ini bagus bagi keturunanmu, belilah untuk makam keluarga.” Maka kakek membeli tanah tersebut. Ia tanami dengan singkong – dikelola oleh penduduk udik situ. Beberapa paman dan bibi dimakamkan di situ. Pertama saya ke sana, adalah ketika memakamkan bibi tertua ibu saya, tahun 1971. Namun sebelumnya sudah ada makam paman dan bibi yang belum sempat saya kenal di situ. Kemudian kakek dimakamkan tahun 1976, bibi ketiga 1982, dan nenek 1983.
Hanya, kini makam-makam itu tidak terlihat. Tanaman singkong, ilalang, dan tanaman lain menutupinya. Oleh karena perlengkapan penjelajahan kami yang tidak siap untuk jalan miring dan agak basah karena hujan, saya urung menerobos perkebunan untuk melihat langsung. Tubuh pun agak lelah kehausan dan kepanasan, kecuali semangat yang masih kuat. Jadi cukuplah kami memandang dari jauh dan memotret lokasi kira-kira makam kakek dan nenek; pohon bambu menutupinya.
Dua kali saya pernah berkemah di sini dengan Pramuka, tahun 1979 dan 1981. Waktu itu belum ada rumah-rumah dan kontrakan. Kini, di seberang atas dan sejauh mata memandang ke seberang sungai, banyak bangunan berdiri. Hanya tanah kakek saja yang masih berupa kebun tanpa bangunan – mungkin karena masih ada urus, menurut keterangan penduduk di sana. Tidak lama kami di sana, kemudian kembali ke tempat mobil diparkir tadi.
Sebelum ke luar ke jalan raya, kami mampir dulu ke rumah famili – katanya. Ada warung di depannya, kami minum. Saya menyempatkan waktu bercakap dengan seseorang yang saya duga adalah sepupu jauh. Beberapa info yang dia sampaikan cocok dengan yang saya ketahui sejak kecil, semisal: nama bibi-bibi, paman, dan kakeknya, dsb. Kakek mereka “seharusnya” adalah adik bungsu dari kakek kami. Namun keterangan cucu itu, nama marga kakeknya berbeda dengan kakek kami. “Koq bisa begitu?” Entahlah, tokh kami tidak bertujuan mencari saudara di situ. Kami hanya puas telah jalan-jalan hari itu, dan berhasil mengunjungi tempat di mana leluhur kami dimakamkan. Hingga kini, tanah tersebut belum terjual. ° (Rasid Rachman)